Asuhan Keperawatan Rematik

By On Monday, December 24th, 2012 Categories : Keperawatan
Advertisement

Asuhan Keperawatan RematikContoh Asuhan Keperawatan RematikMakalah Asuhan Keperawatan RematikPenyakit reumatik adalah penyakit inflamasi non- bakterial yang bersifat sistemik, progesif, cenderung kronik dan mengenai sendi serta jaringan ikat sendi secara simetris.

Asuhan Keperawatan RematikContoh Asuhan Keperawatan Rematik

Nyeri Rematik Asuhan Keperawatan Rematik

 BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar belakang

Perubahan-perubahan akan terjadi pada tubuh manusia sejalan dengan makin meningkatnya usia. Perubahan tubuh terjadi sejak awal kehidupan hingga usia lanjut pada semua organ dan jaringan tubuh. Keadaan demikian itu tampak pula pada semua sistem muskuloskeletal dan jaringan lain yang ada kaitannya dengan kemungkinan timbulnya beberapa golongan reumatik. Salah satu golongan penyakit reumatik yang sering menyertai usia lanjut yang menimbulkan gangguan muskuloskeletal terutama adalah osteoartritis. Kejadian penyakit tersebut akan makin meningkat sejalan dengan meningkatnya usia manusia.

Reumatik dapat mengakibatkan perubahan otot, hingga fungsinya dapat menurun bila otot pada bagian yang menderita tidak dilatih guna mengaktifkan fungsi otot. Dengan meningkatnya usia menjadi tua fungsi otot dapat dilatih dengan baik. Dari berbagai masalah kesehatan itu ternyata gangguan muskuloskeletal menempati urutan kedua (14,5%) setelah penyakit kardiovaskuler dalam pola penyakit masyarakat usia >55 tahun (Household Survey on Health, Dept. Of Health, 1996). Dan berdasarkan survey WHO di Jawa ditemukan bahwa artritis/reumatisme menempati urutan pertama (49%) dari pola penyakit lansia (Boedhi Darmojo et. al, 1991). Berdasarkan hal tersebut kelompok tertarik untuk membahas tentang penyakit reumatik dan dapat mengaplikasikan dalam memberikan asuhan keperawatan kepada klien.

B. Tujuan penulisan

1.  Tujuan umum

Mahasiswa dapat memahami asuhan keperawatan pada klien dengan gangguan sistem muskuloskeletal yaitu Rheumatoid Artritis (Reumatik).

2. Tujuan khusus

Mahasiswa dapat menjelaskan :

a. Definisi penyakit Reumatik

b. Etiologi penyakit Reumatik

c. Manifestasi Klinik Reumatik

d. Patofisiologi penyakit Reumatik

e. Komplikasi penyakit Reumatik

f. Pemeriksaan diagnostik penyakit Reumatik

g. Penatalaksanaan penyakit Reumatik

h. Asuhan keperawatan yang harus diberikan pada klien dengan Reumatik

 

BAB II
TINJAUAN TEORI

A. Konsep Dasar Reumatik

1. PENGERTIAN

Penyakit reumatik adalah penyakit inflamasi non- bakterial yang bersifat sistemik, progesif, cenderung kronik dan mengenai sendi serta jaringan ikat sendi secara simetris. ( Rasjad Chairuddin, Pengantar Ilmu Bedah Orthopedi, hal. 165 )

Reumatoid arthritis adalah gangguan autoimun kronik yang menyebabkan proses inflamasi pada sendi (Lemone & Burke, 2001 : 1248).

Reumatik dapat terjadi pada semua jenjang umur dari kanak-kanak sampai usia lanjut. Namun resiko akan meningkat dengan meningkatnya umur (Felson dalam Budi Darmojo, 1999).

Artritis Reumatoid adalah penyakit autoimun sistemik kronis yang tidak diketahui penyebabnya dikarekteristikan dengan reaksi inflamasi dalam membrane sinovial yang mengarah pada destruksi kartilago sendi dan deformitas lebih lanjut.( Susan Martin Tucker.1998 )

Artritis Reumatoid ( AR ) adalah kelainan inflamasi yang terutama mengenai mengenai membran sinovial dari persendian dan umumnya ditandai dengan dengan nyeri persendian, kaku sendi, penurunan mobilitas, dan keletihan. ( Diane C. Baughman. 2000 )Artritis rematoid adalah suatu penyakit inflamasi kronik dengan manifestasi utama poliartritis progresif dan melibatkan seluruh organ tubuh. ( Arif Mansjour. 2001 )

A. Konsep Dasar Reumatik

B.   Konsep Dasar Lansia

1.    Pengertian Lansia

Masa dewasa tua (lansia) dimulai setelah pensiun, biasanya antara usia 65-75 tahun (Potter, 2005). Proses menua merupakan proses sepanjang hidup, tidak hanya dimulai dari suatu waktu tertentu, tetapi dimulai sejak permulaan kehidupan. Menjadi tua merupakan proses alamiah, yang berarti seseorang telah melalui tiga tahap kehidupannya, yaitu anak, dewasa, dan tua (Nugroho, 2008).

Penuaan adalah suatu proses yang alamiah yang tidak dapat dihindari, berjalan secara terus-manerus, dan berkesinambungan (Depkes RI, 2001). Menurut Keliat (1999) dalam Maryam (2008), Usia lanjut dikatakan sebagai tahap akhir perkembangan pada daur kehidupan manusia sedangkan menurut pasal 1 ayat (2), (3), (4) UU No.13 Tahun 1998 Tentang Kesehatan dikatakan bahwa usia lanjut adalah seseorang yang telah mencapai usia lebih dari 60 tahun (Maryam, 2008). Penuaan adalah normal, dengan perubahan fisik dan tingkah laku yang dapat diramalkan dan terjadi pada semua orang pada saat mereka mencapai usia tahap perkembangan kronologis tertentu (Stanley, 2006).

2.  Klasifikasi Lansia

Klasifikasi berikut ini adalah lima klasifikasi pada lansia.

  1. Pralansia (prasenilis)

Seseorang yang berusia antara 45-59 tahun.

  1. Lansia

Seseorang yang berusia 60 tahun atau lebih.

  1. Lansia Resiko Tinggi

Seseorang yang berusia 70 tahun atau lebih/seseorang yang berusia 60 tahun atau lebih dengan masalah kesehatan (Depkes RI, 2003).

  1. Lansia Potensial

Lansia yang masih mampu melakukan pekerjaan dan/atau kegiatan yang dapat menghasilkan barang/jasa (Depkes RI, 2003).

  1. Lansia Tidak Potensial

Lansia yang tidak berdaya mencari nafkah, sehingga hidupnya bergantung pada bantuan orang lain (Depkes RI, 2003).

3.  Karakteristik Lansia

Menurut Keliat (1999) dalam Maryam (2008), lansia memiliki karakteristik sebagai berikut.

  1. Berusia lebih dari 60 tahun (sesuai dengan Pasal 1 Ayat (2) UU No. 13 tentang kesehatan).
  2. Kebutuhan dan masalah yang bervariasi dari rentang sehat sampai sakit, dari kebutuhan biopsikososial sampai spiritual, serta dari kondisi adaftif hingga kondisi maladaptif.
  3. Lingkungan tempat tinggal yang bervariasi (Maryam, 2008).

4.  Tipe Lansia

Di zaman sekarang (zaman pembangunan), banyak ditemukan bermacam-macam tipe usia lanjut. Yang menonjol antara lain:

  1. Tipe arif bijaksana

Lanjut usia ini kaya dengan hikmah pengalaman, menyesuaikan diri dengan perubahan zaman, mempunyai diri dengan perubahan zaman, mempunyai kesibukan, bersikap ramah, rendah hati, sederhana, dermawan, memenuhi undangan, dan menjadi panutan.

  1. Tipe mandiri

Lanjut usia ini senang mengganti kegiatan yang hilang dengan kegiatan baru, selektif dalam mencari pekerjaan dan teman pergaulan, serta memenuhi undangan.

  1. Tipe tidak puas

Lanjut usia yang selalu mengalami konflik lahir batin, menentang proses penuaan, yang menyebabkan kehilangan kecantikan, kehilangan daya tarik jasmani, kehilangan kekuasaan, status, teman yang disayangi, pemarah, tidak sabar, mudah tersinggung, menuntut, sulit dilayani dan pengkritik.

  1. Tipe pasrah

Lanjut usia yang selalu menerima dan menunggu nasib baik, mempunyai konsep habis (“habis gelap datang terang”), mengikuti kegiatan beribadat, ringan kaki, pekerjaan apa saja dilakukan.

  1. Tipe bingung

Lansia yang kagetan, kehilangan kepribadian, mengasingkan diri, merasa minder, menyesal, pasif, acuh tak acuh (Nugroho, 2008).

5.  Tugas Perkembangan Lansia 

Menurut Erickson, kesiapan lansia untuk beradaptasi atau menyesuaikan diri terhadap tugas perkembangan usia lanjut dipengaruhi oleh proses tumbuh kembang pada tahap sebelumnya. Adapun tugas perkembangan lansia adalah sebagai berikut :

  1. Mempersiapkan diri untuk kondisi yang menurun.
  2. Mempersiapkan diri untuk pensiun.
  3. Membentuk hubungan baik dengan orang seusianya.
  4. Mempersiapkan kehidupan baru.
  5. Melakukan penyesuaian terhadap kehidupan sosial/masyarakat secara santai.
  6. Mempersiapkan diri untuk kematiannya dan kematian pasangan (Maryam, 2008).

BAB III

FORMAT PENGKAJIAN GERONTIK

A.     Pengkajian

  • Nama Panti Werdha    :
  • Ruangan/wisma           :
  • Tingkat                        :

B.     Data Biografis

  • Nama                           :
  • Umur                           :
  • Jenis Kelamin              :
  • Pendidikan Terakhir    :
  • Suku/bangsa                :
  • Tanggal Masuk Panti  :
  • Status Perkawinan      :

C.     Riwayat Kesehatan

  • Dikirim dari :
  • Alasan masuk ke panti:

D.    Riwayat Keluarga

Genogram :

E.     Status Kesehatan

Pada saat dilakukan pengkajian, Keadaan umum klien Baik, tingkat kesadaran Composmentis (kesadaran penuh), klien mengatakan sering sakit pada daerah pinggang. bila timbul serangan nyeri pada pinggangnya klien tidak mampu melakukan aktivitasnya. Klien juga mengatakan kurang paham dan mengerti dengan penyakit yang dideritanya serta pencegahan dan pengobatan. Pada saat pengkajian berikutnya pasien bertanya pada mahasiswa tentang pengobatan tradisional.

Pada saat dilakukan pemeriksaan, didapatkan data:

Pasien terlihat meringis kesakitan, skala nyeri 6 (sedang), Pemeriksaan TTV:

TD = 130/90mmHg, RR = 22 x/menit, T = 36,70C, HR = 86 x/menit, pasien tampak bingung saat ditanya tentang penyakit yang dideritanya dan kurang paham tentang cara pencegahan dan pengobatannya. Klien terlihat bertanya pada mahasiswa tentang penyakitnya.

F.      Pola Aktivitas dan Latihan

Kemampuan perawatan mandiri Mandiri Bantuan alat Bantuan orang lain Bantuan orang lain dan peralatan
Makan/minum
Mandi
Berpakaian
Ke WC
Transfer/pindah
Ambulanci

 

G.    Pola Nutrisi

Selera makan                : Normal

Kesulitan menelan         : Tidak

 

H.    Pola Eliminasi

Kebiasaan BAB           : normal

Kebiasaab BAK           : normal

 

I.       Pola Persepsi Kognitif

Pendengaran                 : mulai menurun

Penglihatan                   : mulai menurun

Vertigo                         : tidak ada

 

J.      Pola Kepercayaan

Agama                         : Islam

Ritual Agama                : Ada (sholat 5 waktu)

 

K.    Pengakajian Fisik

Tanda- Tanda vital : TD = 130/90mmHg, HR = 86x/menit, T = 36,70C, RR = 22x/menit.

Tinjauan Sistem

Umum Ya Tidak
Kelemahan
Perubahan nafsu makan
Demam
Keringat malam
Kesulitan tidur
Sering pilek/infeksi

Keterangan :

Penilaian status kesehatan klien secara keseluruhan baik, kemampuan untuk melakukan ADL mampu, namun ketika timbul serangan nyeri klien tidak mampu melaukukan aktivitas secara normal.

 

Tinjauan muskuloskletal

Muskuloskletal Ya Tidak
Nyeri persendian
Kekakuan
Pembengkakan sendi
Deformitas
Spasme
Kram
Kelemahan otot
Masalah cara berjalan
Nyeri punggung

Keterangan :

Penilaian status kesehatan klien secara keseluruhan mengalami masalah yaitu tentang intoleransi aktivitas b/d kelemahan umum.

Dampak pada ADL mengalami gangguan namun tidak terlalu bermasalah atau fatal.

ANALISA DATA

No Data Etiologi Masalah Keperawatan
1. DS :

-Klien mengatakan pinggangnya sering terasa sakit

-Klien mengatakan skala nyeri nya sedang

DO :

- Pasien terlihat meringis

-Skala nyeri 6

-TD = 130/90mmHg

RR = 22x/i

T = 36,7’c

HR = 86x/iProses penyakitGangguan rasa nyaman : Nyeri2.DS :

-Klien mengatakan bila serangan nyeri timbul klien tidak dapat melakukan aktifitas

-Pasien mengatakan tubuhnya terasa lemah dan sendinya terasa kaku

DO :

-Pasien terlihat dibantu oleh mahasiswa dalam melakukan aktifitasnyaKelemahan otot, kekauan sendiGangguan Intoleransi Aktifitas3.DS :

-Klien mengatakan tidak faham dan tidak mengerti tentang penyakit yang diderita nya

-Klien mengatakan bagaimana cara pencegahan dan pengobatan tentang penyakitnya

DO :

-Klien terlihat bertanya pada mahasiswa tentang pencegahan dan pengobatan penyakitnya

-klien terlihat bingung saat ditanya tentang penyakitnya oleh mahasiswaKurangnya InformasiKurang Pengetahuan

 

Diagnosa Keperatan dan Intervensi

No. Diagnosa Keperawatan Tujuan

KriteriaIntervensiRasional1.Gangguan rasa nyaman nyeri b/d proses penyakiSetelah dilakukan tindakan keperawatan 2×24 jam diharapkan masalah klien dapat teratasi atau berkurang, dengan KH:

-          Nyeri berkurang

-          klien tampak rileks

-          nyeri dapat teratasi-          kaji lokasi nyeri dan tingkatan nyeri

-          ajarkan tehnik relaksasi

-          ukur TTV klien

-          berikan kompres hangat pada daerah nyeri

-          Berikan masase yang lembut-          untuk menentukan tindakan pengontrolan nyeri

-          bertujuan untuk pengontrolan nyeri dan mengurangi rasa nyeri

-          untuk mengetahui respon tubuh terhadap nyeri

-          bertujuan untuk pelebaran pembulu darah dan stimulasi pengurangan nyeri

-          meningkatkan relaksasi atau mengurangi nyeri2Gangguan intoleransi aktivitas b/d kelemahan dan kekakuan sendiSetelah dilakukan tindakan keperawatan 2×24 jam diharapkan masalah klien dapat teratasi, dengan KH:

-          klien mampu beraktivitas secara normal

-          klien dapat melakukan aktivitas secara mandiri-          pertahankan istirahat tirah baring yang cukup

-          bantu klien dengan rentang gerak aktif/ pasif secara bertahap

-          berikan lingkungan yang tenang dan nyaman

-          nilai kekuatan otot-          bertujuan untuk mentoleransi kemampuan tubuh

-          meningkatkan kekuatan otot

-          bertujuan untuk mengurangi ke gelisahan pasien dan merileksasikan kerja tubuh

-          bertujuan untuk menentukan kekuatan otot3Kurangnya pengetahuan b/d kurangnya pengetahuan terhadap proses penyakitStelah dilakukan tindakan keperawatan 2×24 jam masalah keperawatan dapat teratasi, dengan KH:

-          pasien mengerti tentang penyakitnya

-          klien mampu mengulang kembali pengertian tenntang penyakitnya saat di tanya kembali oleh mahasiswa-          berikan penyuluhan kesehatan tentang rematik

-          berikan penjelasan tentang tekhnik relakksasi yang telah di ajarkan

-          ajarkan pasien untuk membuat ramuan tradsisional seperti merica, daun belimbing, cengkeh, dan air cuka

-          ajarkan pasien mengenai senam rematik-          untuk menambah pengetahuan pasien terhadap penyakit yang dideritanya

-          tekhnik relaksasi dapat membantu mengurangi nyeri dalam beraktivitas

-          ramuan tradisional dapat digunakan sebagai pengobatan yang alami tanpa efeksamping

-          senam rematik dapat meminimalkan gejala rematik

 

IMPLEMENTASI

NO Dx TANGGAL IMPLEMENTASI EVALUASI
1

2

3I

2

3Senin 06/06/2011

Selasa 07/06/2011

Rabu 08/06/20111. menkaji lokasi nyeri dan tingkatan nyeri

2. mengajarkan tehnik relaksasi

3. mengukur TTV klien

4. memberikan kompres hangat pada daerah nyeri

5. Berikan masase yang lembut

1.mempertahankan istirahat tirah baring yang cukup

2. membantu klien dengan rentang gerak aktif/ pasif secara bertahap

3. memberikan lingkungan yang tenang dan nyaman

4. menilai kekuatan otot

1. memberikan penyuluhan kesehatan tentang rematik

2. memberikan penjelasan tentang tekhnik relakksasi yang telah di ajarkan

3. mengajarkan pasien untuk membuat ramuan tradsisional seperti merica, daun belimbing, cengkeh, dan air cuka

4. mengajarkan pasien mengenai senam rematikS: klien mengatakan nyeri hilang

O: Klien tampak tenang

A: masalah dapat teratasi

P: Intervensi dilanjutkan, lanjutkan ke DX 2

S: pasien mengatakan masih lelah jika beraktvitas berlebihan

O: klien tampak jarang beraktivitas

TTV:

TD: 110/80 mmHg

N   : 99 x/i

RR: 22 x/i

S    : 37 x/i

A: Masalah belum teratasi

P: Intervensi dilanjutkan, anjurkan pasien untuk istirahat

S: pasien mengatakan mengerti tentang apa yang di ajarkan

O: pasien tampak tenang, bingung  (-)

A: masalah telah teratasi

P: Intervensi dilanjutkan fokus ke DX 2

Asuhan Keperawatan Rematik

Advertisement
Asuhan Keperawatan Rematik | SeputarSehat.com | 4.5
Leave a Reply