Asuhan Keperawatan Kista Ovarium

By On Monday, December 24th, 2012 Categories : Keperawatan

Asuhan Keperawatan Kista OvariumContoh Asuhan Keperawatan Kista OvariumMakalah Asuhan Keperawatan Kista Ovarium, Kista ovarium adalah suatu tumor, baik yang kecil maupun yang besar, kistik atau padat, jinak atau ganas. Dalam kehamilan, tumor ovarium yang dijumpai yang paling sering ialah kista dermoid, kista coklat atau kista lutein.

Asuhan Keperawatan Kista Ovarium

Kista Ovarium 300x240 Asuhan Keperawatan Kista Ovarium

PENGERTIAN

Kista ovarium adalah suatu tumor, baik yang kecil maupun yang besar, kistik atau padat, jinak atau ganas. Dalam kehamilan, tumor ovarium yang dijumpai yang paling sering ialah kista dermoid, kista coklat atau kista lutein. Tumor ovarium yang cukup besar dapat menyebabkan kelainan letak janin dalam rahim atau dapat menghalang-halangi masuknya kepala ke dalam panggul  (Winkjosastro, et. all, 1999).

Kista ovarium secara fungsional adalah kista yang dapat bertahan dari pengaruh hormonal dengan siklus menstruasi ( Lowdermilk, dkk. 2005 : 273 ).

Kista  ovarium merupakan perbesaran sederhana ovarium normal, folikel de graf atau korpus luteum atau kista ovarium dapat timbul akibat pertumbuhan dari epithelium ovarium ( Smelzer and Bare. 2002 : 1556 ).

ETIOLOGI

Factor yang menyebabkan gajala kista meliputi;

  1. Gaya hidup tidak sehat.

Diantaranya adalah :

  • Konsumsi makanan yang tinggi lemak dan kurang serat
  • Zat tambahan pada makanan
  • Kurang olah raga
  • Merokok dan konsumsi alcohol
  • Terpapar denga polusi dan agen infeksius
  • Sering stress
  1. Faktor genetik

Dalam tubuh kita terdapat gen gen yang berpotensi memicu kanker, yaitu yang disebut protoonkogen, karena suatu sebab tertentu, misalnya karena makanan yang bersifat karsinogen , polusi, atau terpapar zat kimia tertentu atau karena radiasi, protoonkogen ini dapat berubah menjadi onkogen, yaitu gen pemicu kanker.

Menurut etiologinya,tumor  ovarium dibagi menjadi dua, yaitu (Ignativicius, Bayne, 1991):

1. Kista non neoplasma, disebabkan karena ketidakseimbangan hormon estrogen dan progesteron, diantaranya adalah :

  1. kista non fungsional Kista serosa inklusi, berasal dari permukaan epitelium yang berkurang di dalam kortek.
  2. kista fungsional Kista folikel, disebabkan karena folikel yang matang menjadi ruptur atau folikel yang tidak matang direabsorbsi cairan folikuler diantara siklus menstruasi. Banyak terjadi pada wanita yang menarche kurang dari 12 tahun.

2. Kista neoplasma (Wiknjosastro, et.all, 1999)Kistoma ovarii simpleks. Adalah suatu jenis kistadenoma serosum yang kehilangan epitel kelenjarnya karena tekanan cairan dalam kista.

  1. TANDA DAN GEJALA

Kebayakan kista ovarium tidak menunjukan tanda dan gejala. Sebagian besar gejala yang ditemukan adalah akibat pertumbuhan aktivitas hormone atau komplikasi tumor tersebut.Kebanyakan wanita dengan kanker ovarium tidak menimbulakan gejala dalam waktu yang lama. Gejala umumnya sangat berfariasi dan tidak spesifik.

Tanda dan gejala yang sering muncul pada kista ovarium antara lain :

  • menstruasi yang tidak teratur, disertai nyeri.
  • perasaan penuh dan dtertekan diperut bagian bawah.
  • nyeri saat bersenggama.
  • perdarahan.

Pada stadium awal gejalanya dapat berupa:

  • Gangguan haid
  • Jika sudah menekan rectum atau VU mungkin terjadi konstipasi atau sering berkemih.
  • Dapat terjadi peregangan atau penekanan daerah panggul yang menyebabkan nyeri spontan dan sakit diperut.
  • Nyeri saat bersenggama.

Pada stadium lanjut :

  • Asites
  • Penyebaran ke omentum (lemak perut) serta oran organ di dalam rongga perut (usus dan hati)
  • Perut membuncit, kembung, mual, gangguan nafsu makan,
  • Gangguan buang air besar dan kecil.
  • Sesak nafas akibat penumpukan cairan di rongga dada.

KLASIFIKASI

  1. Kista folikel

Kista folikel berkembang pada wanita muda wanita muda sebagian akibat folikel de graft yang matang karena tidak dapat meyerap cairan setelah ovulsi.kista ini bisanya asimptomotik keculi jika robek.dimana kasus ini paraf jika tedapat nyeri pada panggul.jika kista tidak robek,bisanya meyusut setelah 2-3 siklus menstrusi.

  1. Kista corpus luteum

Terjadi setelah ovulasi dan karena peningkatan sekresi dari progesterone akibat dari peningkatan cairan di korpus luteum ditandai dengan nyeri, tendenderness pada ovari, keterlambatan mens dan siklus mens yang tidak teratur atau terlalu panjang. Rupture dapat mengakibatkan haemoraghe intraperitoneal. Biasanya kista corpus luteum hilang dengan selama 1-2 siklus menstruasi.

  1. Syndroma rolycystik ovarium

Terjadi ketika endocrine tidak seimbang sebagai akibat dari estrogen yang terlalu tinggi, testosoron dan luteinizing hormone dan penurunan sekresi fsh. Tanda dan gejala terdiri dari obesitas, hirsurism (kelebihan rambut di badan) mens tidak teratur, infertelitas.

  1. Kista Theca- lutein

Biasanya bersama dangan mola hydatidosa. Kista ini berkembang akibat lamanya stimulasi ovarium dari human chorionik gonadotropine( HCG ). ( Lowdermik,dkk. 2005:273 ).

PENATALAKSANAAN MEDIS

  1. Pengangkatan kista ovarium yang besar biasanya adalah melalui tindakan bedah, misal laparatomi, kistektomi atau laparatomi salpingooforektomi.
  2. Kontrasepsi oral dapat digunakan untuk menekan aktivitas ovarium dan menghilangkan kista.
  3. Perawatan pasca operasi setelah pembedahan untuk mengangkat kista ovarium adalah serupa dengan perawatan setelah pembedahan abdomen dengan satu pengecualian penurunan tekanan intra abdomen yang diakibatkan oleh pengangkatan kista yang besar biasanya mengarah pada distensi abdomen yang berat. Hal ini dapat dicegah dengan memberikan gurita abdomen sebagai penyangga.
  4. Tindakan keperawatan berikut pada pendidikan kepada klien tentang pilihan pengobatan dan manajemen nyeri dengan analgetik / tindakan kenyamanan seperti kompres hangat pada abdomen atau teknik relaksasi napas dalam, informasikan tentang perubahan yang akan terjadi seperti tanda – tanda infeksi, perawatan insisi luka operasi. ( Lowdermilk.dkk. 2005:273 ).

PEMERIKSAAN PENUNJANG

  1. Pap smear : untuk mengetahui displosia seluler menunjukan kemungkinan adaya kanker / kista.
  2. Ultrasound / scan CT : membantu mengindentifikasi ukuran / lokasi massa.
  3. Laparoskopi : dilakukan untuk melihat tumor, perdarahan, perubahan endometrial.
  4. Hitung darah lengkap : penurunan Hb dapat menununjukan anemia kronis sementara penurunan Ht menduga kehilangan darah aktif, peningkatan SDP dapat mengindikasikan proses inflamasi / infeksi. ( Doenges. 2000:743 ).
  5.  Foto Rontgen Pemeriksaan ini berguna untuk menentukan adanya hidrotoraks. Selanjutnya, pada kista dermoid kadang-kadang dapat dilihat gigi dalam tumor. Penggunaan foto rontgen pada pictogram intravena dan pemasukan bubur barium dalam colon disebut di atas.

PROGNOSIS

Sekitar 98 % lesi yang terjadi pada wanita yang berumur 29 tahun dan yang lebih muda adalah jinak. Setelah usia 50 tahun, hanya 50 % yang jinak.

 

KOMPLIKASI

Menurut manuaba ( 1998:417 ) komplikasi dari kista ovarium yaitu :

  • Perdarahan intra tumor

Perdarahan menimbulkan gejala klinik nyeri abdomen mendadak dan memerlukan tindakan yang cepat.

  • Perputaran tangkai

Tumor bertangkai mendadak menimbulkan nyeri abdomen.

  • Infeksi pada tumor

Menimbulkan gejala: badan panas, nyeri pada abdomen, mengganggu aktifitas sehari-hari.

  • Robekan dinding kista

Pada torsi tangkai ada kemungkinan terjadi robekan sehingga isi kista tumpah kedalam rungan abdomen.

  • Keganasan kista ovarium

Terjadi pada kista pada usia sebelum menarche dan pada usia diatas 45 tahun.

ASUHAN KEPERAWATAN

PENGKAJIAN

Menurut doenges ( 2000.997 ) hal – hal yang terus terkaji pada klien dengan post operasi laparatomi adalah :

1. Data biografi klien

2. Aktivitas/Istirahat

Kelemahan atau keletihan. perubahan pola istirahat dan jam kebisaan tidur, adanya factor -faktor yang mempengaruhi tidur misal : nyeri, ansietas, keterbatasan, partisipasi dalam hobi dan latihan.

3. Sirkulasi

Palpitasi, nyeri dada, perubahan pada TD

4. Integritas ego

Factor stress dan cara mengatasi stress, masalah tentang perubahan dalam penampilan insisi pembedahan, perasaan tidak berdaya, putus asa,depresi,menarik diri.

5. Eliminasi

Perubahan pada pola defekasi misal:darah pada feces,nyeri pada defekasi, perubahan eliminasi urinarius misalnya: nyeri, perubahan pada bising usus.

6. Makanan/cairan

Anoreksia, mual / muntah.intoleransi makanan, perubahan pada berat badan penurunan BB, perubahan pada kelembaban / turgor kulit, edema.

7. Neurosensori

Pusing, sinkop

8. Nyeri / kenyamanan

Tidak ada nyeri / derajat bervariasi misalnya : ketidaknyamanan ringan sampai nyeri berat ( dihubungkan dengan proses penyakit ).

9. Pernapasan

Merokok, pemajanan abses

10. Keamanan

Pemajanan pada kimia toksik, karsinogen, pemajanan matahari lama, berlebihan, demam, ruam kulit / ulserasi.

11. Seksualitas

Perubahan pada tingkat kepuasan

12. Interaksi social

Ketidak adekuatan / kelemahan system pendukung, riwayat perkawinan, masalah tentang fungsi / tanggung jawab peran.

13. Penyuluhan / pembelajaran

Riwayat penyakit pada kelurga, riwayat pengobatan, pengobatan sebelumnya atau operasi.

DIAGNOSA KEPERAWATAN

  1. Gangguan rasa nyaman : nyeri abdomen berhubungan dengan insisi pada abdomen
  2. Resiko infeksi daerah operasi berhubungan dengan perawatan luka operasi yg kurang adequat.
  3. Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan pengangakatan bedah kulit.( jaringan, perubahan sirkulasi).
  4. Gangguan eliminasi urine (retensio)berhubungan dengan penekanan oleh massa jaringan neoplasma pada daerah sekitarnya, gangguan sensorik/motorik.
  5. Gangguan rasa nyaman ( cemas ) berhubungan dengan kurangnya pengetahuan tentang penyakit dan penatalaksanaannya.
  6. Resiko tinggi kekurangan cairan tubuh berhubungan dengan perdarahan pervaginam berlebihan.
  7. Ganguan konsep diri berhubungan dengan kekawatiran tentang ketidakmampuan memiliki anak, perubahan dalam masalah kewanitaan, akibat pada hubungan seksual.

 INTARVENSI KEPERAWATAN

Diagnosa I

  • Gangguan rasa nyaman : nyeri abdomen berhubungan dengan insisi pada abdomen.

Tujuan : Rasa nyaman terpenuhi

Kriteria hasil: skala nyeri 0, pasien mengungkapkan berkurangnya rasa nyeri, tanda-tanda vital normal.

INTERVENSI

RASIONAL

1. kaji tingkat dan intensitas nyeri.

2. Atur posisi senyaman mungkin.

3. Kolaborasi untuk pemberian obat analgetik.

4. Ajarkan dan lakukan telhnik relaksasi.a.mengidentifikasi lingkup masalah.

b.Menurunkan tingkat ketegangan pada daerah nyeri.

c.Menghilangkan rasa nyeri.

d. Merelaksasi otot-otot tubuh.

Diagnosa II

  • Resiko infeksi daerah operasi berhubungan dengan perawatan luka operasi yg kurang adequat.

Tujuan : Tidak terjadi infeksi. riteria hasil : tidak ada tanda-tanda infeksi (TTV normal, tidak ada peningkatan leukosit).

INTERVENSI

RASIONAL

1. pantau dan observasi terus tentang keadaan luka operasi.

2. Lakukan perawatan luka operasi secara aseptik dan antiseptik.

3. Kolaborasi dalam pemberian antibiotik.1. deteksi dini tentang terjadi nya infeksi yang lebih berat.

2. Menekan sekecil mungkin sumber penularan eksterna.

3. Membunuh mikro organisme secara rasional.

Diagnosa III

  • Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan pengangkatan bedah kulit.( jaringan, perubahan sirkulasi).

Tujuan : Tidak terjadi kerusakan kulit yang berat.

Kriteria hasil   :kulit tidak terlihat berwarna merah

INTERVENSI RASIONAL
·      Kaji balutan / untuk karakteristik drainase, kemerahan dan nyeri pada insisi dan lengan.

·      Tempatkan pada posisi semi fowler pada punggung / sisi yang tidak sakit dengan lengan tinggi dan disokong dengan bantal.

 

·      Jangan melakukan pengukaran TD, menginjeksikan obat / memasukan IV pada lengan yang sakit.·        Untuk melihat terjadi nya kerusakan kulit setelah operasi.

 

·         Untuk mengurangi rasa nyeri yang di rasakan pasien.

 

 

 

·         Agar tidak terjadi kerusakan dan nyeri yg lebih kuat.

Diagnosa IV

  • Ganguan eliminasi urine (retensio)berhubungan dengan penekanan oleh massa jaringan neoplasma pada daerah sekitarnya, gangguan sensorik/motorik.

Tujuan: pola eliminasi urine kembali normal

Kriteria hasil :

  • Klien memehami terjadinya retensi urine
  • Klien bersedia melakukan tindakan untuk mengurangi retensi urine.
NO INTERVENSI RASIONAL
1.

 

2.

 

 

3.

 

 

4.

 

 

5.Catat pola niksi dan monitor pengeluaran urine.

Lakukan palpasi pada kandung kemih, observasi adanya ketidaknyamanan dan rasa nyeri.

Anjurkan klien untuk merangsang miksi dengan pemberian air hangat, mengatur posisi.

Periksa semua urine, catat adanya keluaran batu dan kirim kelaboratorium untuk analisa data.

Dorong klien untuk meningkatkan pemasukan cairan.Melihat perubahan pola eliminasi urine.

 

Menentukan tingkat nyeri yang dirasakan oleh klien.

 

Mencegah terjadinya retensi.

 

 

Mengetahui seberapa banyak urine yang dikeluarkan dan mengetahui dalam urine adanya batu atau tidak.

Mendorong urine untu keluar.

Diagnosa  V

  • Gangguan rasa nyaman ( cemas ) berhubungan dengan kurangnya pengetahuan tentang penyakit dan penatalaksanaannya.

Tujuan : Pasien mengetahui tentang efek sawing dari operasinya.

Kriteria hasil : Pasien menyatakan memahami tentang kondisinya.

INTERVENSI RASIONAL
Kaji ulang tingakt pemahaman pasien tentang penyakitnya.

 

Dorong klien untuk mengungkapkan pikiran dan perasaannya.

Berikan informasi tentang penyakitnya, prognosis, dan pengobatan secara prosedur secara jelas dan akurat.

Monitor tanda-tanda vital.

 

Minta pasien untuk member umpan balik tentang apa yang telah terjadi.Mengetahui sejauh mana pemahaman pasien tentang apa yang dijelaskan.

Dengan cara ini akan membantu mengurangi cemas klien.

Membantu klien dalam memahami tentang penyakitnya.

 

Respon fisik akan menggambarkan tingkat kecemasan klien.

Mengetahui tingkat kecemasan pasien.

Diagnosa  VI

  • Resiko tinggi kekurangan cairan tubuh berhubungan dengan perdarahan pervaginam berlebihan.

  Tujuan    : setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 2×24 jam tidak terjadi    kekurangan volume cairan tubuh.

  Kriteria hasil :

  • Tidak ditemukan tanda-tanda kekurangan cairan.
  • Tanda-tanda vital dalam batas normal.
NO INTERVENSI RASIONAL
1.

 

2.

 

3.

 

4.

 

5.Kaji tanda-tanda kekurangan cairan.

 

Pantau masukan urine dan haluaran urine.

 

Monitor TTV.

 

Observasi  perdarahan.

 

Kolaborasi pemberian cairan parenteralMengetahui lebih awal apabila kekurangan cairan.

Mengetahui keseimbangan antara input dan output.

Dari hasil observasi TTV akan diketahui bila kekurangan cairan.

Mengetahui seberapa banyak darah yang keluar.

Membatu mencegah kekurangan cairan tubuh.

Diagnosa  VII

  • Ganguan konsep diri berhubungan dengan kekawatiran tentang ketidakmampuan memiliki anak, perubahan dalam masalah kewanitaan, akibat pada hubungan seksual.

Tujuan: tidak terjadi gangguan konsep diri.

Kriteria hasil :

  • Klien dapat menerima kondisinya
  • Klien tenang
NO INTERVENSI RASIONAL
1.

2.

 

3.

 

 

4.

 

 

Kaji sejauh mana rasa khawatir klien.

Beri kesempatan klien untuk mengungkapkan perasaannya

Lakukan prosedur perawatan yang tepat sehingga tidak terjadi komplikasi berupa cacat fisik .

Beri support mental dan ajak keluarga dalam memberikan support1.      Mengetahui sejauh mana rasa khawatir klien.

2.      Supaya mengurangi beban klien.

3.      Gangguan konsep diri diri tidak bertambah.

4.      Klien merasa masih ada orang yang masih peduli sama klien

Asuhan Keperawatan Kista Ovarium

Asuhan Keperawatan Kista Ovarium | SeputarSehat.com | 4.5
Leave a Reply