Asuhan Keperawatan Gastroenteritis

By On Tuesday, February 5th, 2013 Categories : Keperawatan

Asuhan Keperawatan Gastroenteritis, Contoh Asuhan Keperawatan Gastroenteritis, Makalah Asuhan Keperawatan Gastroenteritis, Gastroenteritis adalah keadaan dimana frekuensi buang air besar lebih dari 4 kali pada bayi dan lebih 3 kali pada anak dengan konsistensi feses encer, dapat berwarna hijau atau dapat pula bercampur lendir dan darah/lendir saja.

Asuhan Keperawatan Gastroenteritis

gastroenteritis 300x204 Asuhan Keperawatan Gastroenteritis

 BAB I

TINJAUAN TEORITIS

A.    Definisi Gastroenteritis ( GE )

Gastroenteritis adalah keadaan dimana frekuensi buang air besar lebih dari 4 kali pada bayi dan lebih 3 kali pada anak dengan konsistensi feses encer, dapat berwarna hijau atau dapat pula bercampur lendir dan darah/lendir saja (Sudaryat Suraatmaja.2005).

Gastroentritis adalah peradangan yang terjadi pada lambung dan usus yang memberikan gejala diare dengan atau tanpa disertai muntah (Sowden,et all.1996).

Gastroenteritis adalah inflamasi pada daerah lambung dan intestinal yang disebabkan oleh bakteri yang bermacam-macam,virus dan parasit yang patogen (Whaley & Wong’s,1995).

Gastroenteritis adalah kondisis dengan karakteristik adanya muntah dan diare yang disebabkan oleh infeksi,alergi atau keracunan zat makanan ( Marlenan Mayers,1995 ).

Dari keempat pengertian diatas penulis dapat menyimpulkan bahwa:

Gastroentritis adalah peradangan yang terjadi pada lambung, usus besar, dan usus halus disebabkan oleh infeksi makanan yang mengandung bakteri atau virus yang memberikan gejala diare dengan frekwensi lebih banyak dengan konsistensi encer dan kadang-kadang disertai dengan muntah-muntah. Dari biasanya yang disebabkan oleh bakteri,virus dan parasit yang patogen.

Gastroenteritis dapat menyerang segala usia, karena ia disebabkan oleh mikroorganisme yang merupakan bagian dari flora yang menghuni tempat di seluruh permukaan bumi.

B.     Etiologi

Penyebab dari diare akut antara lain :

1.         Faktor Infeksi

Infeksi Virus

Retavirus

·         Penyebab tersering diare akut pada bayi, sering didahulu atau disertai dengan muntah.

·         Timbul sepanjang tahun, tetapi biasanya pada musim dingin.

·         Dapat ditemukan demam atau muntah.

·         Di dapatkan penurunan HCC.

Enterovirus

·         Biasanya timbul pada musim panas.

Adenovirus

·         Timbul sepanjang tahun.

·         Menyebabkan gejala pada saluran pencernaan / pernafasan.

Norwalk

·         Epidemik

·         Dapat sembuh sendiri ( dalam 24 – 48 jam ).

Bakteri

Stigella

·         Semusim, puncaknya pada bulan Juli-September

·         Insiden paling tinggi pada umur 1-5 tahun

·         Dapat dihubungkan dengan kejang demam.

·         Muntah yang tidak menonjol

·         Sel polos dalam feses

·         Sel batang dalam darah

Salmonella

·         Semua umur tetapi lebih tinggi di bawah umur 1 tahun.

·         Menembus dinding usus, feses berdarah, mukoid.

·         Mungkin ada peningkatan temperatur

·         Muntah tidak menonjol

·         Sel polos dalam feses

·         Masa inkubasi 6-40 jam, lamanya 2-5 hari.

·         Organisme dapat ditemukan pada feses selama berbulan-bulan.

Escherichia coli

·         Baik yang menembus mukosa ( feses berdarah ) atau yang menghasilkan entenoksin.

·         Pasien ( biasanya bayi ) dapat terlihat sangat sakit.

Campylobacter

·         Sifatnya invasis ( feses yang berdarah dan bercampur mukus ) pada bayi dapat menyebabkan diare berdarah tanpa manifestasi klinik yang lain.

·         Kram abdomen yang hebat.

·         Muntah / dehidrasi jarang terjadi

Yersinia Enterecolitica

·         Feses mukosa

·         Sering didapatkan sel polos pada feses.

·         Mungkin ada nyeri abdomen yang berat

·         Diare selama 1-2 minggu.

·         Sering menyerupai apendicitis.

2.         Faktor Non Infeksiosus

v  Malabsorbsi

Malabsorbsi karbohidrat disakarida (intoleransi, lactosa,maltosa, dan sukrosa ), non sakarida ( intoleransi glukosa, fruktusa, dan galaktosa ). Pada bayi dan anak yang terpenting dan tersering ialah intoleransi laktosa.

·         Malabsorbsi lemak : long chain triglyceride.

·         Malabsorbsi protein : asam amino, B-laktoglobulin.

v  Faktor makanan

Makanan basi, beracun, alergi terhadap makanan (milk alergy, food alergy, dow’n milk protein senditive enteropathy/CMPSE).

v  Faktor Psikologis
Rasa takut,cemas.

C.     Patofisiologi

Penyebab gastroenteritis akut adalah masuknya virus ( Rotravirus, Adenovirus enteris, Virus Norwalk ), Bakteri atau toksin ( Compylobacter, Salmonella, Escherihia Coli, Yersinia, dan lainnya ), parasit ( Biardia Lambia, Cryptosporidium ).

Beberapa mikroorganisme patogen ini menyebabkan infeksi pada sel-sel, memproduksi enterotoksin atau Cytotoksin dimana merusak sel-sel, atau melekat pada dinding usus pada Gastroenteritis akut.

Penularan Gastroenteritis biasa melalui fekal – oral dari satu penderita ke yang lainnya. Beberapa kasus ditemui penyebaran patogen dikarenakan makanan dan minuman yang terkontaminasi.

Mekanisme dasar penyebab timbulnya diare adalah gangguan osmotic (makanan yang tidak dapat diserap akan menyebabkan tekanan osmotic dalam rongga usus meningkat sehingga terjadi pergeseran air dan elektrolit kedalam rongga usus, isi rongga usus berlebihan sehingga timbul diare ). Selain itu menimbulkan gangguan sekresi akibat toksin di dinding usus, sehingga sekresi air dan elektrolit meningkat kemudian terjadi diare. Gangguan multilitas usus yang mengakibatkan hiperperistaltik dan hipoperistaltik. Akibat dari diare itu sendiri adalah kehilangan air dan elektrolit ( Dehidrasi ) yang mengakibatkan gangguan asam basa (Asidosis Metabolik dan HipokalemiaN ), gangguan gizi ( intake kurang, output berlebih), hipoglikemia, dan gangguan sirkulasi darah.

Normalnya makanan atau feses bergerak sepanjang usus karena gerakan-gerakan peristaltik dan segmentasi usus. Namun akibat terjadi infeksi oleh bakteri, maka pada saluran pencernaan akan timbul mur-mur usus yang berlebihan dan kadang menimbulkan rasa penuh pada perut sehingga penderita selalu ingin BAB dan berak penderita encer.

Dehidrasi merupakan komplikasi yang sering terjadi jika cairan yang dikeluarkan oleh tubuh melebihi cairan yang masuk, cairan yang keluar disertai elektrolit.

Mula-mula mikroorganisme Salmonella, Escherichia Coli, Vibrio Disentri dan Entero Virus masuk ke dalam usus, disana berkembang biak toxin, kemudian terjadi peningkatan peristaltik usus, usus kehilangan cairan dan elektrolit kemudian terjadi dehidrasi.

D.    Tanda dan Gejala

1.      Kuman Salmonella

Suhu badan naik, konsistensi tinja cair/encer dan berbau tidak enak, kadang-kadang mengandung lendir dan darah, stadium prodomal berlangsung selama 2-4 hari dengan gejala sakit kepala, nyeri dan perut kembung.

2.      Kuman Escherichia Coli

Lemah, berat badan sukar naik, pada bayi mulas yang menetap.

3.      Kuman Vibrio

Konsistensi encer dan tanpa diketahui mules dalam waktu singkat terjadi, akan berubah menjadi cairan putih keruh tidak berbau busuk amis, yang bila diare akan berubah menjadi campuran-campuran putih, mual dan kejang pada otot kaki.

4.      Kuman Disentri

Sakit perut, muntah, sakit kepala, BAB berlendir dan berwarna kemerahan, suhu badan bervariasi, nadi cepat.

5.      Kuman Virus

Tidak suka makan, BAB berupa cair, jarang didapat darah, berlangsung selama 2-3 hari.

6.      Gastroenteritis Choleform

Gejala utamanya diare dan muntah, diare yang terjadi tanpa mulas dan tidak mual, bentuk feses seperti air cucian beras dan sering mengakibatkan dehidrasi.

7.      Gastroenteritis Desentrium

Gejala yang timbul adalah toksik diare, kotoran mengandung darah dan lendir yang disebut sindroma desentri, jarang mengakibatkan dehidrasi dan tanda yang sangat jelas timbul 4 hari sekali yaitu febris, perut kembung, anoreksia, mual dan muntah.

E.     Manifestasi Klinis

    • Nyeri perut ( abdominal discomfort )
    • Rasa perih di ulu hati
    • Mual, kadang-kadang sampai muntah
    • Nafsu makan berkurang
    • Rasa lekas kenyang
    • Perut kembung
    • Rasa panas di dada dan perut
    • Regurgitasi ( keluar cairan dari lambung secara tiba-tiba ).
    • Diare.
    • Demam.
    • Membran mukosa mulut dan bibir kering
    • Lemah
    • Diare.
    • Fontanel Cekung

F.      Komplikasi.
a. Dehidrasi
b. Renjatan hipovolemik
c. Kejang
d. Bakterimia
e. Mal nutrisi
f. Hipoglikemia
g. Intoleransi sekunder  akibat kerusakan mukosa usus.

G.    Tingkat Derajat Dehidrasi

 Dari komplikasi Gastroentritis,tingkat dehidrasi dapat diklasifikasikan sebagai berikut :

a.    Dehidrasi ringan

Kehilangan cairan 2 – 5 % dari berat badan dengan gambaran klinik turgor kulit kurang elastis, suara serak, penderita belum jatuh pada keadaan syok, ubun-ubun dan mata cekung, minum normal, kencing normal.

b.    Dehidrasi Sedang

Kehilangan cairan 5 – 8 % dari berat badan dengan gambaran klinik turgor kulit jelek, suara serak, penderita jatuh pre syok nadi cepat dan dalam. gelisah, sangat haus, pernafasan agak cepat, ubun-ubun dan mata cekung, kencing sedikit dan minum normal.

c.    Dehidrasi Berat

Kehilangan cairan 8 – 10 % dari berat badan dengan gambaran klinik seperti tanda-tanda dehidrasi sedang ditambah dengan kesadaran menurun, apatis sampai koma, otot-otot kaku sampai sianosis, denyut jantung cepat, nadi lemah, tekanan darah turun, warna urine pucat, pernafasan cepat dan dalam, turgor sangat jelek, ubun-ubun dan mata cekung sekali, dan tidak mau minum.

Atau yang dikatakan dehidrasi bila:

            1. Dehidrasi ringan: kehilangan cairan 2-5% atau rata-rata 25ml/kgBB.

            2. Dehidrasi sedang: kehilangan cairan 5-10% atau rata-rata 75ml/kgBB.

            3. Dehidrasi berat: kehilangan cairan 10-15% atau rata-rata 125ml/kgBB.

Berdasarkan golongan Gastroenteritis dibagi menjadi:

1.      Pada bayi dan anak-anak.

Bayi dan anak-anak dikatakan diare bila sudah lebih dari tiga kali perhari BAB, sedangkan neonatus dikatakan diare bila sudah lebih dari empat kali perhari BAB.

2.      Pada orang dewasa.

Pada orang dewasa dikatakan diare bila sudah lebih dari tujuh kali dalam 2 jam BAB.

Jenis-jenis diare:

1.      Diare cair akut

Keluar tinja yang encer dan sering ada terlihat darah, yang berakhir kurang dari 14 hari.

2.      Disentri.

Diare dengan adanya darah dalam feces, frekuensi sering dan feces sedikit-sedikit.

3.      Diare persisten.

Diare yang berakhir dlm 14 hari atau lebih, dimulai dari diare akut atau disentri.

H.    Pemeriksaan Penunjang.

Pemeriksaan laboratorium yang meliputi :

1.      Pemeriksaan Tinja

·      Makroskopis dan mikroskopis.

·      pH dan kadar gula dalam tinja dengan kertas lakmus dan tablet dinistest, bila diduga terdapat intoleransi gula.

·      Bila diperlukan, lakukan pemeriksaan biakan dan uji resistensi.

2.      Pemeriksaan Darah

·      pH darah dan cadangan dikali dan elektrolit ( Natrium, Kalium, Kalsium, dan Fosfor ) dalam serum untuk menentukan keseimbangan asama basa.

·      Kadar ureum dan kreatmin untuk mengetahui faal ginjal.

3.      Intubasi Duodenum ( Doudenal Intubation )

Untuk mengatahui jasad renik atau parasit secara kualitatif dan kuantitatif, terutama dilakukan pada penderita diare kronik.

I.       Penatalaksanaan Medis.

a.    Pemberian cairan untuk mengganti cairan yang hilang.

b.    Diatetik : pemberian makanan dan minuman khusus pada penderita dengan tujuan penyembuhan dan menjaga kesehatan adapun hal yang perlu diperhatikan :
1.     Memberikan asi.

2.     Memberikan bahan makanan yang mengandung kalori, protein,

        vitamin, mineral, dan makanan yang bersih.

c.    Monitor dan koreksi input dan output elektrolit.

d.   Obat-obatan.
Berikan antibiotik.

e.    Koreksi asidosis metabolik.

BAB II

ASKEP TEORITIS

1.      Pengkajian

Pengkajian yang sistematis meliputi pengumpulan data, analisa data dan penentuan masalah. Pengumpulan data diperoleh dengan cara intervensi, observasi, psikal assessment.

Pengkajian data menurut Cyndi Smith Greenberg, 1992 adalah :

A.    Identitas klien.

B.     Riwayat keperawatan.

a.         Awalan serangan : Awalnya anak cengeng, gelisah, suhu tubuh meningkat, anoreksia kemudian timbul diare.

b.         Keluhan utama : Feces semakin cair,muntah,bila kehilangan banyak air dan elektrolit terjadi gejala dehidrasi, berat badan menurun. Pada bayi ubun-ubun besar cekung, tonus dan turgor kulit berkurang, selaput lendir mulut dan bibir kering, frekwensi BAB lebih dari 4 kali dengan konsistensi encer.

C.     Riwayat kesehatan masa lalu.

Riwayat penyakit yang diderita, riwayat pemberian imunisasi.

D.    Riwayat psikososial keluarga.

Dirawat akan menjadi stressor bagi anak itu sendiri maupun bagi keluarga,kecemasan meningkat jika orang tua tidak mengetahui prosedur dan pengobatan anak, setelah menyadari penyakit anaknya, mereka akan bereaksi dengan marah dan merasa bersalah.

E.     Kebutuhan dasar.

a.         Pola eliminasi : akan mengalami perubahan yaitu BAB lebih dari 4 kali sehari, BAK sedikit atau jarang.

b.         Pola nutrisi : diawali dengan mual, muntah, anopreksia, menyebabkan penurunan berat badan pasien.

c.          Pola tidur dan istirahat akan terganggu karena adanya distensi abdomen yang akan menimbulkan rasa tidak nyaman.

d.         Pola hygiene : kebiasaan mandi setiap harinya.

e.          Aktivitas : akan terganggu karena kondisi tubuh yang lamah dan adanya nyeri akibat distensi abdomen.

F.      Pemerikasaan fisik.

a.         Pemeriksaan psikologis :

Keadaan umum tampak lemah, kesadran composmentis sampai koma, suhu tubuh tinggi, nadi cepat dan lemah, pernapasan agak cepat.

b.         Pemeriksaan sistematik :

§   Inspeksi : mata cekung, ubun-ubun besar, selaput lendir, mulut dan bibir kering, berat badan menurun, anus kemerahan.

§   Perkusi : adanya distensi abdomen.

§   Palpasi : Turgor kulit kurang elastis.

§   Auskultasi : terdengarnya bising usus.

c.          Pemeriksaan tingkat tumbuh kembang.

Pada anak diare akan mengalami gangguan karena anak dehidrasi sehingga berat badan menurun.

d.         Pemeriksaan penunjang.

Pemeriksaan tinja, darah lengkap dan doodenum intubation yaitu untuk mengetahui penyebab secara kuantitatip dan kualitatif.

2.      Diagnosa Keperawatan.

1.      Defisit volume cairan dan elektrolit kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan output cairan yang berlebihan.

2.      Gangguan kebutuhan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan mual dan muntah.

3.      Gangguan integritas kulit berhubungan dengan iritasi, frekwensi BAB yang berlebihan.

4.      Gangguan rasa nyaman nyeri berhubungan dengan distensi abdomen.

5.      Kurang pengetahuan berhubungan dengan kurangnya informasi tentang penyakit, prognosis dan pengobatan.

3.      Intervensi

1.    Defisit volume cairan dan elektrolit kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan output cairan yang berlebihan.

       Tujuan             :  Devisit cairan dan elektrolit teratasi

                 Kriteria hasil   :

§  Tanda-tanda dehidrasi tidak ada.

§  Mukosa mulut.

§  Bibir  lembab.

§  Cairan seimbang.

                   Intervensi        :

§   Observasi tanda-tanda vital.

§   Observasi tanda-tanda dehidrasi.

§   Ukur infut dan output cairan ( balanc ccairan ).

§   Berikan dan anjurkan keluarga untuk memberikan minum yang banyak kurang lebih 2000 – 2500 cc per hari.

§   Kolaborasi dengan dokter dalam pemberian therafi cairan pemeriksaan lab elektrolit.

§   Kolaborasi dengan tim gizi dalam pemberian cairan rendah sodium.

2.    Gangguan kebutuhan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan mual dan muntah.

Tujuan             :  Gangguan pemenuhan kebutuhan nutrisi teratasi

Kriteria hasil   :

§  Intake nutrisi klien meningkat

§  Diet habis 1 porsi yang  disediakan

§  Mual dan muntah tidak ada.

Intervensi        :

§   Kaji pola nutrisi klien dan perubahan yang terjadi.

§   Timbang berat badan klien.

§   Kaji factor penyebab gangguan pemenuhan nutrisi.

§   Lakukan pemerikasaan fisik abdomen ( palpasi,perkusi,dan auskultasi ).

§   Berikan diet dalam kondisi hangat dan porsi kecil tapi sering.

§   Kolaborasi dengan tim gizi dalam penentuan diet klien.

3.    Gangguan integritas kulit berhubungan dengan iritasi, frekwensi BAB yang berlebihan.

Tujuan             :  Gangguan integritas kulit teratasi

Kriteria hasil   :

§  Integritas kulit kembali normal

§  Iritasi tidak ada

§  Tanda-tanda infeksi tidak ada

Intervensi        :

§  Ganti popok anak jika basah.

§  Bersihkan bokong perlahan sabun non alcohol.

§  Beri zalp seperti zinc oxsida bila terjadi iritasi pada kulit.

§  Observasi bokong dan perineum dari infeksi.

§  Kolaborasi dengan dokter dalam pemberian therafi antipungi sesuai indikasi.

4.    Gangguan rasa nyaman nyeri berhubungan dengan distensi abdomen.

Tujuan             :  Nyeri dapat teratasi.

       Kriteria hasil   :

§  Nyeri dapat berkurang / hilang.

§  Ekspresi wajah tenang.

Intervensi        :

§  Observasi tanda-tanda vital.

§  Kaji tingkat rasa nyeri.

§  Atur posisi yang nyaman bagi klien.

§  Beri kompres hangat pada daerah abdomen.

§  Kolaborasi dengan dokter dalam pemberian therafi analgetik sesuai indikasi.

5.    Kurang pengetahuan berhubungan dengan kurangnya informasi tentang penyakit, prognosis dan pengobatan.

       Tujuan             :  Pengetahuan keluarga meningkat

       Kriteria hasil   :

§  Keluarga klien mengeri dengan proses penyakit klien.

§  Ekspresi wajah tenang

§  Keluarga tidak banyak bertanya lagi tentang proses penyakit klien.

                   Intervensi        :

§  Kaji tingkat pendidikan keluarga klien.

§  Kaji tingkat pengetahuan keluarga tentang proses penyakit klien.

§  Jelaskan tentang proses penyakit klien dengan melalui penkes.

§  Berikan kesempatan pada keluarga bila ada yang belum dimengertinya.

§  Libatkan keluarga dalam pemberian tindakan pada klien.

4.      Implementasi

1.    Defisit volume cairan dan elektrolit kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan output cairan yang berlebihan.

a.         Mengobservasi tanda-tanda vital.

b.        Mengobservasi tanda-tanda dehidrasi.

c.         Mengukur infut dan output cairan ( balanc ccairan ).

d.        Memberikan dan anjurkan keluarga untuk memberikan minum yang banyak kurang lebih 2000 – 2500 cc per hari.

e.         Mengkolaborasi dengan dokter dalam pemberian therafi cairan pemeriksaan lab elektrolit.

f.         Mengkolaborasi dengan tim gizi dalam pemberian cairan rendah sodium.

2.    Gangguan kebutuhan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan mual dan muntah.

a.       Mengkaji pola nutrisi klien dan perubahan yang terjadi.

b.      Menimbang berat badan klien.

c.       Mengkaji factor penyebab gangguan pemenuhan nutrisi.

d.      Melakukan pemerikasaan fisik abdomen ( palpasi,perkusi,dan auskultasi ).

e.       Memberikan diet dalam kondisi hangat dan porsi kecil tapi sering.

f.       Mengkolaborasi dengan tim gizi dalam penentuan diet klien.

3.    Gangguan integritas kulit berhubungan dengan iritasi, frekwensi BAB yang berlebihan.

a.    Mengganti popok anak jika basah.

b.    Membersihkan bokong perlahan sabun non alcohol.

c.    Memberi salp seperti zinc oxsida bila terjadi iritasi pada kulit.

d.   Mengobservasi bokong dan perineum dari infeksi.

e.    Mengkolaborasi dengan dokter dalam pemberian therafi antipungi sesuai indikasi.

4.    Gangguan rasa nyaman nyeri berhubungan dengan distensi abdomen.

a.  Mengobservasi tanda-tanda vital.

       b.  Mengkaji tingkat rasa nyeri.

       c.  Mengtur posisi yang nyaman bagi klien.

       d.  Memberi kompres hangat pada daerah abdomen.

       e.  Mengkolaborasi dengan dokter dalam pemberian therafi analgetik sesuai indikasi.

5.    Kurang pengetahuan berhubungan dengan kurangnya informasi tentang penyakit, prognosis dan pengobatan.

a.    Mengkaji tingkat pendidikan keluarga klien.

b.    Mengkaji tingkat pengetahuan keluarga tentang proses penyakit klien.

c.    Meenjelaskan tentang proses penyakit klien dengan melalui penkes.

d.   Memberikan kesempatan pada keluarga bila ada yang belum dimengertinya.

e.    Melibatkan keluarga dalam pemberian tindakan pada klien.

5.      Evaluasi

1)      Volume cairan dan elektrolit kembali normal sesuai kebutuhan.

2)      Kebutuhan nutrisi terpenuhi sesuai kebutuhan tubuh.

3)      Integritas kulit kembali normal.

4)      Rasa nyaman terpenuhi.

5)      Pengetahuan kelurga meningkat.

6)      Cemas pada klien teratasi.

Intervensi Keperawatan
Rasional
Mandiri:
Awasi masukan dan haluaran, karakter, dan jumlah feses.
Memberikan informasi tentang keseimbangan cairan dan elektrolit.
Observasi tanda-tanda vital secara teratur..
Hipotensi, takikardia, demam, dapat menunjukkan respon terhadap efek kehilngan cairan.
Observasi kulit kering berlebihan dan membrane mukosa, penurunan turgor kulit.
Menunjukkan kehilangan cairan berlebihan atau dehidrasi.
Pertahankan pembatasan per oral, tirah baring, hindari kerja.
Kolon diistirahatkan untuk penyembuhan dan untuk menurunkan kehilangan cairan usus.
Observasi perdarap style=”text-align: justify;”p style=”text-align: justify;”han pada feses.
Penurunan absorpsi dapat menimbulkan defisiensi vitamin K dan merusak koagulasi, potensial resiko perdarahan.
Catat kelemahan otot umum.
Kehilangan usus berlebihan dapat menimbulkan ketidakseimbangan elektrolit.
Kolaborasi:
Berikan cairan parenteral, transfusi darah sesuai indikasi.
Mempertahankan istirahat usus akan memerlukan penggantian cairan untuk memperbaiki kehilangan/anemis.
Berikan obat sesuai indikasi:
Antidiare
Antiemetik
Antipiretik
Vitamin K
Menurunkan kehilangan cairan dari usus.
Mengontrol mual muntah
Mengontrol demam
Menstabilisasi koagulasi dan menurunkan resiko perdarahan.
 Gangguan keseimbangan nutrisi: kurang dari kebutuhan tubuh b.d malabsorpsi
usus, mual, muntah.
Intervensi Keperawatan
Rasional
Mandiri:
Timbang berat badan tiap hari
Memberikan informasi tentang kebutuhan diet.
Dorong tirah baring atau pembatasan aktivitas selama fase sakit akut.
Menurunkan kebutuhan metabolic untuk mencegah penurunan kalori dan simpanan energi..
Anjurkan istirahat sebelum makan.
Menenangkan peristaltik dan meningkatkan energi untuk makan.
Lakukan oral hygiene.
Mulut yang bersih dapat meningkatkab rasa makanan.
Batasi makanan yang dapat menyebabkan kram abdomen.
Mencegah serangan akut.
Kolaborasi:
Pertahankan puasa sesuai indikasi.
Istirahat usus menurunkan peristaltik.
Berikan obat sesuai indikasi seperti antikolinergik.
Antikolinergik diberikan 15-30 menit sebelum makan memberikan penghilangan kram dan diare, menurunkan motilitas gaster, dan meningkatkan waktu untuk absorpsi nutrient.

BAB III
PENUTUP

1.        Kesimpulan

Gastroentritis merupakan suatu  peradangan yang terjadi pada lambung, usus besar, dan usus halus disebabkan oleh infeksi makanan yang mengandung bakteri atau virus yang memberikan gejala diare dengan frekwensi lebih banyak dengan konsistensi encer dan kadang-kadang disertai dengan muntah-muntah. Dari biasanya yang disebabkan oleh bakteri,virus Norwalk dan parasit yang patogen.

Dan ditandai oleh infiltrasi mukosa usus halus oleh eosinofil, dengan edema tetapi tanpa vaskulitis dan oleh eosinofilia darah tepi.

2.        Saran

Untuk Perawat

Sebaiknya perawat dalam memberikan asuhan keperawatan harus lebih memperhatikan faktor penyebab maupun faktor pencetus dari penyakit yang diderita anak dan memberikan pendidikan kesehatan pada orang tua klien dan klien agar masalah yang menyebabkan klien dirawat dapat diatasi sehingga tidak terjadi perawatan yang berulang

Untuk Orangtua Klien

Menjaga kebersihan lingkungan rumah, dan membiasakan diri untuk mencuci tangan sebelum dan sesudah memberi makan anak serta menjaga personal hygiene dan memberi mainan anak yang bersih dan dapat dicuci, dan bila terjadi diare pada anak sebelum di bawah ke rumah sakit, diberikan larutan gula garam.

DAFTAR PUSTAKA

Betz, Cecily Lynn. Keperawatan Pediatri. Jakarta: EGC, 2009.

Doengoes, E Marilyn. 2002. Rencana Asuhan Keperawatan. Edisi 3 Jakarta; EGC.

Ngastiyah, 2005. Perawatan Anak Sakit. Jakarta; EGC.

Nursalam Dr. et. Al. 2005 Asuhann Keperawatan Bayi dan Anak. Edisi I Jakarta : Salemba Medika.

Smeltzer C Suzanne, Brenda G Bare, Keperawatan Medikal Bedah, Penerbit Buku Kedokteran, Jakarta; EGC.

Sudoyo, W. Aru, dkk., Ilmu Penyakit Dalam. Jilid 2 Edisi IV, Pusat Penerbitan Departemen Penyakit Dalam FKUI, Jakarta 2006.

Wong, Donna L. 2003. Pedoman Klinis Keperawatan Pediatrik. Jakarta; EGC

Artikel Tentang Asuhan Keperawatan Gastroenteritis

Asuhan Keperawatan Gastroenteritis | SeputarSehat.com | 4.5
Leave a Reply