Asuhan Keperawatan Batuk Rejan

By On Thursday, December 27th, 2012 Categories : Keperawatan

Batuk Rejan 300x300 Asuhan Keperawatan Batuk RejanAsuhan Keperawatan Batuk Rejan, Askep Batuk Rejan, Disebut juga laryngotracheobronchitis, batu rejan adalah infeksi jalan nafas bagian atas dan bawah yang disebabkan edema pada subglottis dan peradangan pada tali suara, dimana kadang-kadang menyebabkan gangguan pernafasan (spasme laring, dispnea, dan batuk yang menyalak), stridor, retraksi, dan sianosis. Biasanya diikuti infeksi jalan nafas bagian atas. Lebih sering karena  respiratory syncytial virus, adenovirus, dan parainfluenza virus.

Biasanya menyerang anak antara usia 3 bulan dan 3 tahun, batuk rejan dapat mengancam kehidupan jika tidak ditangani. Pengobatan biasanya pemberian antibiotik dan cairan dan  pemberian udara yang dilembabkan untuk mempertahankan pernafasan. Anak dengan kondisi pernafasan yang berat dapat dilakukan intubasi atau tracheotomy.

PENGKAJIAN

Respirasi

  • Riwayat gejala-gejala flu 1 sampai 2 hari yang lalu
  • Tanda-tanda dan gejala-gejala gangguan pernafasan
  • Dispnea
  • Retraksi
  • Sianosis
  • Batuk yang menyalak
  • Suara yang serak saat inspirasi

Kardiovaskuler

  • Takikardia

Neurologi

  • Gangguan tingkat kesadaran
  • Gelisah
  • Nyeri kepala
  • Kebingungan
  • Gangguan tidur

Gastrointestinal

  • Kesulitan makan

Integumen

  • Meningkatnya temperatur (biasanya kurang dari 102ºF[39º C], bergantung pada metoda menggunakan pengukuran temperatur)

Psikososial

Kecemasan

DIAGNOSA KEPERAWATAN

Pola nafas tidak efektif berhubungan dengan edema jalan nafas bagiuan atas dan lendir yang kental.

Hasil yang diharapkan

Anak akan mempertahankan jalan nafas bebas ditandai oleh berkurangnya gangguan pernafasan.

Intervensi

  1. Kaji status pernafasan anak sesering mungkin atau kaji secara terus menerus tanda-tanda dan gejala-gejala peningkatan kesukaran pernafasan dan obstruksi pernafasan, termasuk peningkatan frekuensi pernafasan, stridor, retraksi,  pelebaran lobang hidung, ekspirasi yang memanjang, sianosis, kebingungan, gelisah, penurunan bunyi nafas, takikardia, dan batuk yang menyalak.
  2. Berikan kelembaban udara yang sejuk dengan menggunakan tenda, alat humidifikasi, atau marker wajah.
  3. Berikan oksigen, jika diperlukan
  4. Berikan uap racemic epinephrin, jika perlu; perhatikan tanda-tanda obstruksi ulang.
  5. Jika anak dapat menerima, tempatkan pada posisi high-Fowler

Rasional

  1. Tanda-tanda dan gejala-gejala  gangguan pernafasan dapat merupakan indikasi obstruksi  yang lebih buruk
  2. Peningkatan frekuensi nafas yang cepat akan meningkatkan denyut jantung yang dapat merupakan tanda awal hipoksia.
  3. Udara yang lembab dapat mengencerkan lendir.
  4. Oksigen dapat disarankan untuk mengurangi hipoksia dan kegelisahan. Oleh karena
  5.  Posisi ini meningkatkan kapasitas paru oleh karena menurunnya tekanan diaphragma terhadap paru.

DIAGNOSA KEPERWATAN

Risiko penurunan voume cairan berhubungan dengan menurunnya asupan cairan melalui oral

Hasil yang diharapkan

Anakan akan mempertahankan keseimbangan cairan ditandai oleh turgor kulit baik dan haluaran urin 1 sampai 2 ml/kg/jam.

Intervensi

  1. Kaji kemampuan anak untuk mentoleransi cairan (menelan, tercekik, atau batuk).
  2. Berikan dan monitor cairan infus, sesuai petunjuk.
  3. Hati-hati memonitor asupan dan haluaran cairan pada anak
  4. Kaji tanda-tanda dehidrasi pada anak, termasuk tugor kulit jelek, mukosa membran kering, ubun-ubun cekung, dan mata cekung.

Rasional

  1. Kemampuan anak untuk mentoleransi cairan dipengaruhi oleh perasaan kurang nyaman pada tenggorokan, meningkatkan frekuensi pernafasan, atau muntah.
  2. Cairan per infus dapat disarankan untuk menurunkan  aktifitas fisik berhubungan dengan makan melalui mulut. Jika anak mengalami kesukaran pernafasan yang berat, maka cairan per oral merupakan kontraindikasi sebab berisiko terjadinya aspirasi dan muntah.
  3.  Monitoring yang hati-hati memungkinkan deteksi dini tanda-tanda dehidrasi, seperti penurunan luaran urine.
  4. Asupan cairan pada anak diperlukan untuk disesuaikan dengan tanda-tanda dehindrasi yang nampak.

DIAGNOSA KEPERAWATAN

Kecemasan (anak) berhubungan dengan kesukaran pernafasan dan tinggal rawat di rumah sakit.

Hasil yang diharapkan

Anak akan berkurang kecemasannya ditandai oleh periode istirahat tidur yang cukup dan status pernafasan yang stabil.

Intervensi

  1. Biarkan anak pada posisi yang menyenangkan selama pengobatan pelembaban udara atau oksigen. Contohnya, letakkan anak baring di tempat tidur dengan posisi miring atau bagian kepala ditinggikan
  2. Semua pemeriksaan dan prosedur tidak perlu dilakukan hingga status pernafasan anak membaik.
  3. Dorong orang tua untuk tinggal bersama anak.
  4. Berikan benda yang sudah familiar dengan anak, seperti boneka dan selimut pada anak untuk mempertahankan anak dalam  tenda dengan kelembaban atau croupette. Hindari permainan yang mudah terbakar jika anak menggunakan oksigen.
  5. Ciptakan ketenangan, dan suasana tenang.

Rasional

  1. Anak harus dibuat senyaman mungkin dan aman guna mengurangi kecemasan selama pengobatan Sebab ketidak nyamanan dapat meningkatkan frekuensi pernafasan anak dan  menyebabkan stridor. Anak dapat menstoleransi tenda  dengan kelembaban atau alat pelembab yang dingin lebih baik dari dengan masker wajah.
  2. Tingkat kecemasan anak mungkin sudah meningkat disebabkan oleh  meningkatnya kesukaran pernafasan; test dan prosedur yang tidak biasa dapat menambah masalah.
  3. Keberadaan orang tua dapat membantu menurunkan kecemasan, bantu untuk menstabilkan frekuensi pernafasan anak.
  4. Benda yang  yang sudah familiar bagi anak akan memberikan perasaan yang aman dan membantu mengurangi kecemasan yang berhubungan dengan lingkungan yang baru dan lingkungan yang asing bagi anak.
  5. Ketenangan dan suasana yang tenang membantu menurunkan kecemasan dan meningkatkan pernafasan normal.

DIAGNOSA KEPERAWATAN

Kecemasan (orang tua) berhubungan dengan kurangnya pengetahuan tentang kondisi anaknya.

Hasil yang diharapkan

Orang tua akan mengekspresikan bahwa kecemasan berkurang dan meningkatnya pemahaman kondisi anaknya dan berkurangnya ketakutan terhadap prosedur.

Intervensi

  1. Kaji pemahaman orang tua tentang kondisi anaknya dan pengobatannya sehubungan dengan kemungkinan reaksi ketakutannya karena melihat anaknya ketika mengalami gangguan pernafasan.
  2. Jelaskan semua prosedur pada orang tua, pengobatan, dan peralatan.
  3. Berikan dukungan emosional pada orang tua selama anak tinggal rawat di rumah sakit.

Intervensi

  1. Dengan pengkajian memungkinkan anda mengembangkan rencana pengajaran guna membantu orang tua memahami kondisi anak dan pengobatan, akan menurunkan ketakutannya.
  2. Penjelasan yang diberikan sebelumnya dan selama di rumah sakit akan memberikan pengetahuan dan membantu memperjelas kesalahan pemahaman, menurunkan kecemasan orang tua.
  3. Dukungan emosional akan membantu orang tua menyesuaikan diri dengan krisis hospitalisasi.

DIAGNOSA KEPERAWATAN

Kurangnya pengetahuan berhubungan dengan perawatan di rumah

Hasil yang diharapkan

Orang tua akan mengekspresikan pemahamannya sehubungan dengan instruksi perawatan di rumah.

Intervensi

  1. Ajarkan orang tua bagaimana dan kapan diberikan obat; termasuk informasi dosis dan reaksinya.
  2. Jelaskan pada orang tua tanda-tanda dan gejala-gejala kesukaran pernafasan dan infeksi, termasuk demam, dipsnea, takipnea, sputum yang kekuning-kuningan atau kehijauan, dan adanya wheezing.
  3. Jelaskan pentingnya istirahat yang cukup bagi anak.
  4. Ajarkan tentang pentingnya hidrasi dan nutrisi yang cukup. Jelaskan bahwa anak membutuhkan minum dua sampai 8-oz (240-ml) gelas cairan perhari  (bergantung pada keadaan ginjal dan kardiovaskuler) dan makan makanan tinggi kalori.
  5. Ajarkan tentang pentingnya memberikan lingkungan dengan pelembaban dengan menggunakan pelembab yang dingin.
  6. Jika anak mengalami serangan selama musim dingin, sarankan orang tua  membungkus anak dalam selimut hangat atau jaket dan bawa ia keluar.

Rasional

  1. Pemahaman program pengobatan akan membantu otang tua mengikuti seluruh pengobatan anak. Mengetahui tentang efek samping sebagai akibat pengobatan memungkinkan orang tua akan meminta pertolongan pada dokter bila memungkinkan.
  2. Mengetahui bagaimana mengenal tanda-tanda dan gejala-gejala memungkinkan orang tua mencari pertolongan pada dokter bila diperlukan.
  3. Setelah infeksi, anak  memerlukan periode istirahat yang sering guna meningkatkan penyembuhan dan mencegah kekambuhan.
  4. Cairan akan membantu mengencerkan lendir. Diet tinggi kalori membantu memenuhi kalori guna melawan penyakit.
  5. Pelembaban udara membantu mengencerkan lendir. Pelembaban udara yang dingin dari nebulizer dan aman dari pada  udara hangat yang diuapkan, dimana akan menyebabkan kebakaran dan bertumbuh jamur.
  6. Udara dingin akan mengurangi pembengkakan dan batuk akibat penyakit.

Daftar cek dokumentasi

Selama tinggal di rumah sakit, catatan :

Status anak dan pengkajian yang dibuat saat anak masuk kerumah sakit

Perubahan keadaan anak
Berhubungan dengan laboratorium dan pemeriksaan diagnostik
Asupan dan haluaran cairan

Asupan nutrisi

Respon anak terhadap pengobatan

Reaksi anak dan orang tua terhdap penyakit dan tinggal rawat di rumah sakit.

Pedoman mengajaran pasien dan keluarganya

Pedoman rencana pulang.

Asuhan Keperawatan Batuk Rejan

Asuhan Keperawatan Batuk Rejan | SeputarSehat.com | 4.5
Leave a Reply