Home » Kuliah » Makalah Kesehatan » Contoh Makalah Konsep Sakit

Contoh Makalah Konsep Sakit

Contoh Makalah Konsep Sakit– Pada artikel kali ini akan membahas tentang Makalah Konsep Sakit, Definisi atau pengertian sakit adalah suatu gangguan kesehatan yang menyebabkan aktivitas kerja (kegiatan) terganggu. sedangkan Menurut UU No.23, (1992) sakit adalah jika seseorang menderita penyakit menahun (kronis) atau gangguan kesehatan lain yang menyebabkan aktivitas kerja atau kegiatan lainnya terganggu.

Contoh Makalah Konsep Sakit

BAB I MAKALAH KONSEP SAKIT

PENDAHULUAN

A.   Latar Belakang

Konsep sakit adalah konsep yang kompleks dan multi interpretasi, banyak faktor yang mempengaruhi kondisi sakit. Setiap individu, keluarga, masyarakat maupun profesi kesehatan mengartikan sakit secara berbeda tergantung paradigmanya. Kemampuan kognitif akan membentuk cara berpikir seseorang untuk memahami faktor-faktor yang berkaitan penyakit dan menggunakan pengetahuan tentang kesehatan dan penyakit yang dimilikinya untuk menjaga kesehatan sendiri.

Ketika kita membicarakan mengenai arti sakit tentunya dalam benak kita bahwasannya hal tersebut adalah sebuah kondisi yang disebabkan oleh bermacam-macam hal, bisa suatu kejadian, kelainan yang dapat menimbulkan gangguan terhadap susunan jaringan tubuh, dari fungsi jaringan itu sendiri maupun gangguan terhadap keseluruhan fungsi itu sendiri.

Konsep sakit ini penting diketahui agar ketika kita merasakan tanda sakit atau kurang sehat, maka kita bisa segera mendatangi tenaga kesehatan untuk memeriksakan status kesehatan kita. Bila memang sakit, maka kita akan segera mendapatkan pengobatan yang tepat dari ahlinya. Oleh karena itu, penulis membuat makalah dengan judul “KONSEP SAKIT”.

B. Rumusan Masalah

  1. Apa pengertian sakit?
  2. Apa saja ciri-ciri orang sakit?
  3. Bagaimana tahapan sakit?
  4. Apa penyebab sakit menurut masyarakat?

C. Tujuan

  1. Untuk mengetahui pengertian sakit.
  2. Untuk mengetahui ciri – ciri orang sakit.
  3. Untuk mengetahui tahapan sakit.
  4. Untuk mengetahui penyebab sakit.

BAB II MAKALAH KONSEP SAKIT

PEMBAHASAN

A. Definisi Sakit

Berikut beberapa konsep sakit maupun definisi dari sakit itu sendiri.

  1. Sakit adalah suatu gangguan kesehatan yang menyebabkan aktivitas kerja (kegiatan) terganggu.
  2. Definisi Sakit Menurut UU No.23, (1992) adalah jika seseorang menderita penyakit menahun (kronis) atau gangguan kesehatan lain yang menyebabkan aktivitas kerja atau kegiatan lainnya terganggu.
  3. Kriteria sakit menurut Bauman, 1985 terdiri dari 3 bagian penting yaitu : adanya gejala, persepsi tentang keadaan yang dirasakan, kemampuan dalam aktivitas sehari-hari.

Beberapa definisi sakit, antara lain:

  1. Pepkin’s: Suatu kedaan yang tidak menyenangkan yang menimpa seseorang sehingga menimbulkan gangguan dalam aktivitas sehari-hari baik aktivitas jasmani, maupun rohani maupun sosial
  2. Kleinman: Gangguan fungsi atau adaptasi dari proses biologi dan psikofisiologis pada seseorang
  3. Parson: Ketidakseimbangan fungsi normal tubuh manusia termasuk sejumlah sistem biologis dan kondisi penyesuaian
  4. Oxford English Dictionary: Sakit sebagai suatu keadaan dari badan atau sebagian dari organ badan dimana fungsinya terganggu atau menyimpang.
  5. Zaidin Ali: Keadaan yang mengganggu keseimbangan status kesehatan biologis, psikologis, sosial dan spiritual yang mengakibatkan gangguan fungsi tubuh, produktivitas dan kemandirian indivisu baik secara keseluruhan maupun sebagian.

B. Ciri-ciri Sakit

Ciri- ciri sakit di antaranya:

  1. Suhu abnormal yaitu > 38°C.
  2. Tubuhnya lemas, lunglai, letih, dan tidak semangat dalam melakukan  segala aktifitas.
  3. Wajahnya pucat dan tubuh terasa nyeri.
  4. Adanya gangguan fisik, psikis, maupun sosial.
  5. Selalu berfikir bahwa dirinya sakit (sugesti dalam dirinya sendiri).

Pada penelitian Penggunaan Pelayanan Kesehatan Di Provinsi Kalimantan Timur dan Nusa Tenggara Barat (1990), hasil diskusi kelompok di Kalimantan Timur menunjukkan bahwa anak dinyatakan sakit jika menangis terus, badan berkeringat, tidak mau makan, tidak mau tidur, rewel, kurus kering. Bagi orang dewasa, seseorang dinyatakan sakit kalau sudah tidak bisa bekerja, tidak bisa berjalan, tidak enak badan, panas dingin, pusing, lemas, kurang darah, batuk-batuk, mual, diare.

Sedangkan hasil diskusi kelompok di Nusa Tenggara Barat menunjukkan bahwa anak sakit dilihat dari keadaan fisik tubuh dan tingkah lakunya yaitu jika menunjukkan gejala misalnya panas, batuk pilek, mencret, muntah-muntah, gatal, luka, gigi bengkak, badan kuning, kaki dan perut bengkak. Seorang pengobat tradisional yang juga menerima pandangan kedokteran modern, mempunyai pengetahuan yang menarik mengenai masalah sakit. Baginya, arti sakit adalah sebagai berikut: sakit badaniah berarti ada tanda-tanda penyakit di badannya seperti panas tinggi, penglihatan lemah, tidak kuat bekerja, sulit makan, tidur terganggu, dan badan lemah atau sakit, maunya tiduran atau istirahat saja. Pada penyakit batin tidak ada tanda-tanda di badannya, tetapi bisa diketahui dengan menanyakan pada yang gaib. Pada orang yang sehat, gerakannya lincah, kuat bekerja, suhu badan normal, makan dan tidur normal, penglihatan terang, sorot mata cerah, tidak mengeluh lesu, lemah, atau sakit-sakit badan.

Sudarti (1987) menggambarkan secara deskriptif persepsi masyarakat beberapa daerah di Indonesia mengenai sakit dan penyakit; masyarakat menganggap bahwa sakit adalah keadaan individu mengalami serangkaian gangguan fisik yang menimbulkan rasa tidak nyaman. Anak yang sakit ditandai dengan tingkah laku rewel, sering menangis dan tidak nafsu makan. Orang dewasa dianggap sakit jika lesu, tidak dapat bekerja, kehilangan nafsu makan, atau “kantong kering” (tidak punya uang).

C. Tahapan Sakit

  1. Tahap gejala, Merupakan tahap awal seseorang mengalami proses sakit dengan ditandai adanyan perasaan tidak nyaman terhadap dirinya, seperti rasa nyeri, panas dll sebagai manifestasi terjadinya ketidak seimbangan dalam tubuh.
  2. Tahap asumsi terhadap sakit, Tahap seseorang melakukan interprestasi terhadap sakitnya, kemudian berespon dalam bentuk emosi terhadap gejala tersebut, seperti merasakan ketakutan, kecemasan – konsultasi dengan orang yang dianggap lebih tahu atau pelayan kesehatan.
  3. Tahap kontak dengan pelayan  kesehatan, Tahap dimana seseorang telah mengadakan hubungan dengan yankes, meminta nasihat dari profesi kesehatan seperti dokter, perawat yang dilakukan atas inisiatif sendiri, untuk mencari pembenaran tentang sakitnya. Jika ternyata tidak lagi ditemukan gejala yang ada, maka klien mengaggap dirinya sembuh, namun bila gejala tersebut muncul kembali, maka dirinya akan datang ke yankes kembali.
  4. Tahap ketergantungan, Tahap dimana seseorang dianggap mengalami suatu penyakit yang akan mendapat bantuan pengobatan juga kondisi seseorang sudah mulai tergantung, tetapi tidak semua orang mempunyai tingkat katergantungan yang sama, melainkan berbeda berdasarkan tingkat kebutuhannya juga penyakitnya. Tahapan ini dapat dilakukan dengan pengkajian kebutuhan terhadap ketergantungan dan diberi support agar seseorang mengalami kemandirian.
  5. Tahap penyembuhan, Merupakan tahap akhir menuju proses kembalinya kemampuan untuk beradaptasi kembali dengan lingkungan atau dari sakit-sehat, persiapan untuk berfungsi dalam kehidupan social. Peran tenaga kesehatan disini adalah membantu klien untuk meningkatkan kemandirian serta memberikan harapan dan kehidupan menuju kesejahteraan.

D. Penyebab Sakit

Selanjutnya masyarakat menggolongkan penyebab sakit ke dalam 3 bagian yaitu :

  1. Karena pengaruh gejala alam (panas, dingin) terhadap tubuh manusia
  2. Makanan yang diklasifikasikan ke dalam makanan panas dan dingin.
  3. Supranatural (roh, guna-guna, setan dan lain-lain.). Untuk mengobati sakit yang termasuk dalam golongan pertama dan ke dua, dapat digunakan obat-obatan, ramuan-ramuan, pijat, kerok, pantangan makan, dan bantuan tenaga kesehatan. Untuk penyebab sakit yang ke tiga harus dimintakan bantuan dukun,kyai dan lain-lain. Dengan demikian upaya penanggulangannya tergantung kepada kepercayaan mereka terhadap penyebab sakit.

Penyebab Sakit Menurut Masyarakat dan pengobat tradisional menganut dua konsep penyebab sakit, yaitu: Naturalistik danPersonalistik. Penyebab bersifat Naturalistik yaitu seseorang menderita sakit akibat pengaruh lingkungan, makanan (salah makan), kebiasaan hidup, ketidakseimbangan dalam tubuh, termasuk juga kepercayaan panas dingin seperti masuk angin dan penyakit bawaan.

Konsep sakit yang dianut pengobat tradisional (Battra) sama dengan yang dianut masyarakat setempat, yakni suatu keadaan yang berhubungan dengan keadaan badan atau kondisi tubuh kelainan-kelainan serta gejala yang dirasakan. Sakit dianggap sebagai suatu keadaan badan yang kurang menyenangkan, bahkan dirasakan sebagai siksaan sehingga menyebabkan seseorang tidak dapat menjalankan aktivitas sehari-hari seperti halnya orang yang sehat.

Konsep Personalistik menganggap munculnya penyakit (illness) disebabkan oleh intervensi suatu agen aktif  yang  dapat berupa makhluk bukan manusia (hantu, roh, leluhur atau roh jahat), atau makhluk manusia (tukang sihir, tukang tenung).

E.   Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Perilaku Sakit

Perilaku sakit merupakan perilaku orang yang sedang sakit meliputi cara seseorang memantau tubuhnya, memahami gejala yang dialami, dan melakukan upaya penyembuhan dan penggunaan sistem pelayanan kesehatan. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Perilaku Sakit meliputi :

a. Faktor Internal

  1. Persepsi individu terhadap gejala dan sifat sakit yang dialami – Klien akan segera mencari pertolongan jika gejala tersebut dapat mengganggu rutinitas kegiatan sehari-hari. Misal: Tukang Kayu yang menderitas sakit punggung, jika ia merasa hal tersebut bisa membahayakan dan mengancam kehidupannya maka ia akan segera mencari bantuan. Akan tetapi persepsi seperti itu dapat pula mempunyai akibat yang sebaliknya. Bisa saja orang yang takut mengalami sakit yang serius, akan bereaksi dengan cara menyangkalnya dan tidak mau mencari bantuan.
  2. Asal atau Jenis penyakit – Pada penyakit akut dimana gejala relatif singkat dan berat serta mungkin mengganggu fungsi pada seluruh dimensi yang ada, Maka klien bisanya akan segera mencari pertolongan dan mematuhi program terapi yang diberikan.

Sedangkan pada penyakit kronik biasanya berlangsung lama (>6 bulan) sehingga jelas dapat mengganggu fungsi diseluruh dimensi yang ada. Jika penyakit kronik itu tidak dapat disembuhkan dan terapi yang diberikan hanya menghilangkan sebagian gejala yang ada, maka klien mungkin tidak akan termotivasi untuk memenuhi rencana terapi yang ada.

b. Faktor Eksternal

  1. Gejala yang Dapat Dilihat – Gejala yang terlihat dari suatu penyakit dapat mempengaruhi Citra Tubuh dan Perilaku Sakit. Misalnya: orang yang mengalami bibir kering dan pecah-pecah mungkin akan lebih cepat mencari pertolongan dari pada orang dengan serak tenggorokan, karena mungkin komentar orang lain terhadap gejala bibir pecah-pecah yang dialaminya.
  2. Kelompok Sosial – Kelompok sosial klien akan membantu mengenali ancaman penyakit, atau justru meyangkal potensi terjadinya suatu penyakit. Misalnya: Ada 2 orang wanita, sebut saja Ny. A dan Ny.B berusia 35 tahun yang berasal dari dua kelompok sosial yang berbeda telah menemukan adanya benjolan pada Payudaranya saat melakukan SADARI. Kemudian mereka mendisukusikannya dengan temannya masing-masing. Teman Ny. A mungkin akan mendorong mencari pengobatan untuk menentukan apakah perlu dibiopsi atau tidak; sedangkan teman Ny. B mungkin akan mengatakan itu hanyalah benjolan biasa dan tidak perlu diperiksakan ke dokter.
  3. Latar Belakang Budaya – Latar belakang budaya dan etik mengajarkan sesorang bagaimana menjadi sehat, mengenal penyakit, dan menjadi sakit. Dengan demikian perawat perlu memahami latar belakang budaya yang dimiliki klien.
  4. Ekonomi – Semakin tinggi tingkat ekonomi seseorang biasanya ia akan lebih cepat tanggap terhadap gejala penyakit yang ia rasakan. Sehingga ia akan segera mencari pertolongan ketika merasa ada gangguan pada kesehatannya.
  5. Kemudahan Akses Terhadap Sistem Pelayanan kesehatan – Dekatnya jarak klien dengan RS, klinik atau tempat pelayanan medis lain sering mempengaruhi kecepatan mereka dalam memasuki sistem pelayanan kesehatan. Demikian pula beberapa klien enggan mencari pelayanan yang kompleks dan besar dan mereka lebih suka untuk mengunjungi Puskesmas yang tidak membutuhkan prosedur yang rumit.
  6. Dukungan sosial – Dukungan sosial disini meliputi beberapa institusi atau perkumpulan yang bersifat peningkatan kesehatan. Di institusi tersebut dapat dilakukan berbagai kegiatan, seperti seminar kesehatan, pendidikan dan pelatihan kesehatan, latihan (aerobik, senam). Juga menyediakan fasilitas olahraga seperti, kolam renang, lapangan bola basket, lapangan sepak bola, dll.

BAB III MAKALAH KONSEP SAKIT

PENUTUP

a. Kesimpulan

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa sakit adalah suatu gangguan kesehatan yang menyebabkan aktivitas kerja (kegiatan) terganggu. Adapun ciri- ciri sakit antara lain: suhu abnormal yaitu > 38°C, tubuhnya lemas, lunglai, letih, dan tidak semangat dalam melakukan segala aktifitas, wajahnya pucat dan tubuh terasa nyeri, adanya gangguan fisik, psikis, maupun social, dan selalu berfikir bahwa dirinya sakit (sugesti dalam dirinya sendiri).

b. Saran

  1. Diri Sendir – Untuk menjaga keadaan kita tetap sehat dan fit berfikirlah yang positif, karena keadaan sakit dimulai dengan keadaan  jasmani, rohani dan sosial yang kurang baik. Sakit bukan saja karena faktor alam tetapi faktor dari alam bawah sadar kita.
  2. Tenaga Kesehatan – Sebaiknya tenaga kesehatan lebih menjaga kebersihan alat-alat medis agar tidak ada pasien yang tertular penyakit dari pasien sebelumya.
  3. Masyarakat – Masyarakat sebaiknya menjaga lingkungan tetap bersih karena lingkungan yang bersih saja belum tentu bebas dari penyakit apalagi lingkungan yang kotor.

Anda juga bisa membaca Contoh Makalah Penyakit Leukemia, Semoga bermanfaat demikian artikel Contoh Makalah Konsep Sakit

Artikel yang banyak dicari: