Home » Kuliah » Keperawatan » Asuhan Keperawatan Epiglottitis

Asuhan Keperawatan Epiglottitis

Asuhan Keperawatan Epiglottitis, Askep Epiglottitis, Epiglottitis adalah obstruksi infeksi jalan nafas ditandai oleh gangguan pernafasan secara akut yang berlangsung dengan cepat dan peradangan dari epiglottis. Infeksi ini disebabkan oleh Haemophilus influenzae tipe b, dengan mulainya dengan cepat. Secara khusus, anak menunjukan tidak ada tanda-tanda waktu tidur dan saat bangun dengan kesukaran menelan dan luka tenggorokan. Demam dan letargi belangsung secara cepat, diikuti oleh dispnea.

Kondisi ini biasanya berpengaruh pada anak antara usia 2 dan 5  tahun dan dapat mengancam kehidupan jika tidak segera ditangani. Penanganan termasuk dukungan mekanikal ventilator atau tracheostomy. Antibiotik juga digunakan. Prognose pada umumnya baik jika anak segera menerima pengobatan.

PENGKAJIAN
Pernafasan

  • Riwayat luka pada tenggorokan  dengan gangguan pernafasan mulai secara tiba-tiba (dispnea, takipnea, retraksi, wheezing)
  • Bernafas melalui mulut
  •  Nafas stridor
  • hipoksia

Kardiovaskuler

  • Takikardia
  • Denyut nadi kecil

Gastrointestinal

  • Mengeluarkan air liur
  • Ketidak mampuan untuk menelan

Muskuloskeletal

  • Erect, chin-thrust posturing
  • Gelisah

Integumen

  • Peningkatan temperatur

Psikososial

  • Kecemasan
  • Ketakutan

 DIAGNOSA KEPERAWATAN

Pola nafas tidak efektif berhubungan dengan edema jalan nafas bagian atas

Hasil yang diharapkan

Anak akan mempertahankan jalan nafas tetap bebas ditandai oleh tidak adanya tanda-tanda gangguan pernafasan akut.

Intervensi

  1. Kaji  tanda-tanda dan gejala gangguan pernafasan anak, termasuk dispnea, takipnea, sianosis, pengeluaan  air liur, dan wheezing.
  2. Siapkan alat-alat emergensi yaitu intubasi dan tracheostomy disisi tempat tidur anak sepanjang waktu.
  3. hindari stimulasi langsung pada jalan nafas dengan menekan lidah, kultur swab, kateter pengisap, atau laringoskop.
  4. Biarkan anak pada posisi senyaman mungkin dari pada posisi horisontal (kepala lebih tinggi diatas tempat tidur).
  5. Monitor sacara terus menerus warna kulit anak, status pernafasan, dan heart rate hingga jalan nafas dipastikan bebas.

Rasional

  1. Pengkajian diperlukan untuk menentukan kondisi anak dan mencegah kegagalan pernafasan secara sempurna.
  2. Peralatan emergensi  yaitu intubasi dan tracheostomy diperlukan disamping tempat tidur bila terjadi kasus obnstruksi jalan nafas secara sempurna.
  3.  berbagai penanganan epiglottis yang dapat menyebabkan spasme laring  dan pembengkakan, kemungkinan akan menyebabkan  obstruksi sempurna. Pemeriksaa secara langsung dapat dilakukan saat pembedahan  atau dibagian emergensi.
  4. Memungkinkan anak memperoleh  psosisi yang menyenangkan  akan membantu meringankan kecemasan dan menurunkan risiko peningkatan gangguan pernafasan. Penempatkan anak pada posisi horisontal dapat menyebabkan memburuknya jaringan secara cepat.
  5. Monitoring secara terus menerus memungkinkan mendeteksi terjadinya obstruksi sempurna, yang dapat terjadi setiap saat.

DIAGNOSA KEPERAWATAN

Bersihan jalan nafas tidak efektif berhubungan dengan inflamasi dan edema.

Hasil yang diharapkan

Anak akan  mempertahankankan jalan nafas bebas dan aman ditandai oleh tidak adanya gangguan pernafasan.

Intervensi

  1. Kaji secara edekuat pernafasan anak, catat secara khusus tanda-tanda pengingkatan frekuensi pernafasan
  2. Pengingkatan anak dengan ikatan yang lembut pada pergelangan dan pada sikunya.
  3. Pertahankan endotracheal tube pada tempatnya dengan menggunakan pita pengaman tube pada rahang atas anak.
  4. Pertahankan kepala dan leher anak pada posisi netral ( dengan kepala dan leher  dalam posisi lurus).
  5. Lakukan pengisapan lendir secara hati-hati pada anak melalui endotracheal tube, jika diperlukan, jika sekresi berada di jalan nafas.
  6. Berikan oksigen yang dilembabkan dengan menggunakan sungkup wajah, nasal kanule, atau ventilator, sesuai petunjuk.

Rasional

  1. Bila terjadi perubahan status pernafasan biasanya diindikasi gangguan pernafasan.
  2. Sebab reintubasi dapat menyulitkan,trauma dan potensial mengancam kehidupan, pengikatan diperlukan untuk mencegah anak menarik keluar endothracheal tube.
  3. Pemasangan pita akan menjamin meminimalkan gerakan dan mengurangi indisiden akibat ekstubasi.
  4. mempertahankan gerakan minimal pada tube dalam trachea, akan menurnkan risiko trauma dan selanjutnya terjadi stenosis.
  5. Anak mungkin membutuhkan pengisapan lendir sebab jalan nafas yang dibuat mempengaruhi kemampuan mengeluarkan lendir. Pengisapan lendir yang dilakukan secara hati-hati akan menghindari  trauma pada jalan nafas, yang dapat meningkatkan terjadinya hipoksia dan atelektasis.
  6. Oksigen yang dilembabkan mencegah sekresi menjadi kering dan kental didalam jalan nafas.

DIAGNOSA KEPERAWATAN

Risiko penurunan volume cairan berhubungan dengan penurunan asupan cairan.

Hasil yang diharapkan

Anak akan mempertahankan cairan seimbang ditandai oleh tugor kulit baik, haluaran urine 1 sampai 2 ml/kg/jam, dan waktu pengisian kapiler 3 sampai 5 detik.

Intervensi

  1. Jangan memberikan pada anak cairan per oral sebelum intubasi.
  2. Berikan dan monitor cairan I.V., sesuai petunjuk.
  3. monitor anak secara hati-hati sehubungan dengan asupan dan haluaran cairan
  4. Kaji tanda-tanda dehidrasi pada anak, termasuk turgor kulit jelek, mukosa  membran kering, dan cekungan ubun-ubun dan bola mata.

Rasional

  1. Pemberian cairan per oral sebelum intubasi dapat menyebabkan kesulitan menelan dan peningkatan risiko aspirasi.
  2. Cairan per infus akan mempertahankan anak tetap hidrasi.
  3. Menurunnya haluaran urine merupakan indikasi dini terjadinya dehidrasi.
  4. Dehidrasi berindsikasi bahwa anak membutuhkan peningkatan asupan cairan.

DIAGNOSA KEPERAWATAN

Hipertermia berhubungan dengan infeksi.

Hasil yang diharapkan

Anak akan mempertahankan suhu tubuh kurang dari 100˚ F(37,8˚ C)

Intervensi

  1. monitor temperatur anak setiap 2 sampai 4 jam guna dievaluasi.
  2. berikan antipiretik (acetaminophen atau ibuprofen, jangan aspirin), sesuai petunjuk.
  3. Berikan kompres basah (98,6˚ F [37˚ C]) jika pengobatan tidak memberikan suhu badan anak turun.
  4. Lakukan kultur darah, sesuai petunjuk.
  5. Berikan antimikrobial, sesuai petunjuk.

Rasional

  1. temperatur yang tinggi dari 101,3˚ F (38,5˚ C) biasanya berhubungan dengan Haemophilus influenzae, kuman  yang paling sering menyebabkan  epiglottitis.
  2. Antipiretik membantu menurunkan demam dan  memungkinkan anak berisitirahat lebih banyak; aspirin yang diberikan pada anak dibawah usia 12 akan berhubungan dengan Reye’s syndrome.
  3. konpres dingin basah pada permukaan tubuh, akan memungkinkan pembuluh darah mengalami vasokonstriksi, dan seluruh metabolisme menjadi rendah, dan suhu badan menjadi lebih rendah.
  4. kultur diperlukan  untuk mengidentifikasi dan mengobati  infeksi sepsis, dimana terjadi diatas 70 % semua anak yang menderita epiglottitis.
  5. Antimikrobial, seperti cefuroxime (Ceftin), ampicillin (Omnipen), dan chloramphenicol (chloromycetin), efektif melawan H. influenzae.

 DIAGNOSA KEPERAWATAN

Kecemasan dan ketakutan (anak) berhubungan dengan gangguan pernafasan dan tinggal rawat di rumah sakit.

Hasil yang diharapkan

Anak akan berkurang kecemasan dan ketakutannya ditandai oleh istirahat penuh dan bernafas yang tidak sulit.

Intervensi

  1. Biarkan anak pada posisi yang menyenangkan
  2. tunda seluruh tindakan pemeriksaan hingga pastikan jalan nafas bebas.
  3. Dorong orang tua tinggal bersama anaknya dan berpartisipasi dalam perawatan.
  4. Jelaskan semua prosedur dan pengobatan anak dalam batasan yang dapat dimengerti.
  5. Berikan anak alat  yang sudah dikenalnya, seperti boneka dan selimut. Jika anak merima oksigen, maka pastikan boneka tidak  mengeluarkan percikan listrik.

Rasional

  1. meletakkan anak pada posisi tertentu akan meningkatkan kecemasan anak, yang akan menyebabkan peningkatan gangguan pernafasan.
  2. Pemeriksaan mempengaruhi kecemasan anak, yang dapat mengakibatkan peningkatan gangguan pernafasan.
  3. Membuat anak merasa senyaman mungkin akan menurunkan kecemasan. Keberadaan orang tua dan keterlibatannya akan memberikan pada anak merasa aman.
  4. memberi penjelasan sebelum penanganan dapat membantu mengurangi kecemasan sehubungan dengan prosedur dan pengobatan tertentu.
  5. Objek yang sudah familiar bagi anak akan membantu anak merasa lebih aman dalam lingkungan rumah sakit yang asing baginya. Permainan yang mengeluarkan percikan listrik dapat menimbulkan kebakaran oksigen.

 DIAGNOSA KEPERAWATAN

Kecemasan (orang tua) berhubungan dengan kurang pengetahuan perhatian kondisi anak.

Hasil yang diharapkan

Orang tua akan berkurang kecemasannya ditandai oleh kemampuan meberikan duikungan pada anak dan menjelaskan kondisi anak.

Intervensi

  1. Kaji pemahaman orang tua terhadap kondisi anak dan pengobatan yangdiberikan.
  2. Jelaskan kondisi kesehatan anak, berbagai prosedur dan pengobatan yang diberikan.
  3. berikan pengutan dukungan perilaku, seperti berbicara dan sentuhan pada anak.
  4. Berikan dukungan emosional pada orang tua selama tinggal rawat di rumah sakit.

Rasional

  1. Pengkajian dilakukan sebagai dasar untuk rencana pengajaran.
  2. Memberikan penjelasan sebelum penanganan dan selama tinggal di rumah sakit akan meningkatkan pengetahuan dan menghilangkan kesalahan pemahaman, akan menurunkan kecemasan.
  3. Penguatan akan mendorong orang tua untuk meneruskan perilaku yang mendukung.
  4. Mendengarkan perhatian orang tua dan perasaannya akan membantu menangani krisis hospitalisasi.

DIAGNOSA KEPERAWATAN

Kurangnya pengetahuan berhubungan dengan perawatan di rumah

Hasil yang diharapkan

Orang tua akan mengekspresikan  pemahamannya tentang petunjuk perawatan di rumah.

Intervensi

  1. Ajarkan tentang pengobatan antibiotik, termasuk informasi tentang misalnya potensi terjadi reaksinya terhadap gangguan gastrointestinal, ruam,, dan ganggua pernafasan (dispnea, takipnea, sianosis, wheezing, dan takikardia). Jika anak mengalami demam,  beritahukan pada orang tua untuk menggunakan acetaminophen atau ibuprofen sebagai pengganti aspirin untuk menurunkan demam.
  2. Jelaskan pentinmgnya dorongan pada anak agar minum dua atau empat 8-oz(240 ml) glas cairan setiap hari.

Rasional

  1. Orang tua membutuhkan pengetahuan bagaimana dan kapan pemberian antibiotik secara aman dan konsisten. Pengetahui kemungkinan reaksi pengobatan akan secepatnya meminta bantua dokter bila diperlukan. Memberikan aspirin pada anak dibawah usia 12 akan mengakibatkan terjadinya Sindroma Reye’s
  2. Menggantikan kehilangan cairan melalui ekspirasi dan kesulitan menelan, asupan cairan yang tidak adekuat dapat meningkatkan terjadinya dehidrasi dan bahkan ketidak seimbangan elektrolit.

Daftar cek pendokumentasian

Selama tinggal rawat di rumah sakit, catatan :

ٱ Keadaan anak dan pengkajian yang dibuat selama masuk rumah sakit

ٱ Perubahan keadaan anak

ٱ Yang berhubungan dengan pemeriksaan laboratorium dan test diagnostik yang dilakukan

ٱ Upaya intubasi

ٱ Asupan dan haluaran cairan

ٱ Respon anak dan pengobatan

ٱ Reaksi anak dan orang tua terhadap penyakit dan tinggal rawat di rumah sakit.

ٱ Pedoman pengajaran pasien dan keluarganya

ٱ Pedoman rencana tindak lanjut.

Asuhan Keperawatan Epiglottitis

Artikel yang banyak dicari: